“Melayang” bersama UNGU
Setelah melanglang buana cukup lama, Zay sempat terlena oleh buaian mesra genre J-Pop, Black Music, Jazz dan laen2nya, sehingga membuat Zay sendiri lengah bahkan lupa akan keberadaan genre POP Indonesia. "My God!!! Zay!…What are you doing recently? "….begitulah bentak Zay pada diri sendiri, saat terbangun dan terkejut dengan munculnya beberapa musisi POP Indonesia dengan new generation nya…Rasa hati menjadi sejuk dan nyaman setelah kembali kepelukan blantika musik POP Indonesia dengan "new soul ", "new spirit " dan nya yang bener2 patut diacungkan jempol! Disini Zay akan mengenalkan beberapa musisi POP Indonesia yang Zay anggap sangat patut untuk diexposekan! OKey… SOKAis, kita mulai dengan yang ini….Siapa lagi? kalo bukan… UNGU!
Ekplorasi ’sound romantic’ pada album ‘Melayang’
Sekitar satu setengah tahun tak melepas album baru, tentu ada sesuatu yang beda bagi band panggung dan rekaman. Inovasi musik itulah yang dilakukan band Ungu melalui album Melayang, yang dilepas Trinity Records September 2005 lalu.
Lebih Catchy, Minim Distorsi
Album Melayang adalah album ketiga Ungu, setelah Laguku ( 2002 ) dan Tempat Terindah ( 2004 ). Rata-rata band asal Jakarta ini melakukan proses jeda menggarap album lebih dari satu setengah tahun.”Tapi album ketiga yang kami kasih judul Melayang ini merupakan album yang kami pikirin bener bikinnya. Album Ungu yang lebih dewasa, lebih catchy dan ngepop, tanpa mengurangi karakter Ungu,” ujar vokalis Pasha membuka percakapan. Sebelum ini, lagu Ungu bisa berdurasi 6-7 menit. Kini, untuk hit single Melayang, Ungu rela memotong durasi lagunya untuk video klip tak sampai 3 menit 10 detik saja. Bagi Ungu, tak mudah melakukan perubahan. Mereka harus meredam keinginan bermain ke wilayah musik rock yang gahar, dengan double gitar berdistorsi yang pernah mereka tunjukkan di album Tempat Terindah, tatkala Ungu mulai merekrut Oncy sebagai gitaris. Gitaris kelahiran Palu ( Sulawesi ) ini pernah memberi warna pada musik dinamisnya Funky Kopral, yang mau tak mau juga memberi ’roh baru’ pada musik panggung dan rekaman Ungu. Tapi pada album Melayang (September 2005), permainan duet gitar Oncy dan Enda, terasa lebih kalem. Lebih ’dewasa’. Itu bisa didengar pada lagu ’Seperti Yang Dulu’ (Enda), ’Tercipta Untukku’ (Oncy) dan ’Sejauh Mungkin’ (Pasha). Bahkan pada lagu ”Tercipta Untukku’, ’Seperti Yang Dulu’ (Enda) dan ’Demi Waktu’, Ungu memakai unsur string section, ”Aransemen orkestra pada Demi Waktu, ditulis oleh Iwan Hasan. Iwan dari band progressive rock Discus ini juga menjadi bintang tamu main piano di lagu itu,” ujar bassist Makki. Yang beda lainnya adalah, tampilnya gitar akustik pada ’Sejauh Mungkin’, dan ’Seperti Yang Dulu’.
Namun, benang merah karakter musik Ungu yang rock lovers, terdengar pula pada komposisi lagu ’Melayang’ (Enda), ’Berjanjilah’ (Enda), ’Dari Satu Hati’ (Oncy) dan ’Ungu’ (Enda). ”Pada lagu Ungu, diletakkan filosofi band Ungu sebagai band yang lebih dewasa. Lagu ini bercerita tentang perjalanan band Ungu yang tetap bisa menyatu, satu visi, satu tujuan. Namun harus diakui, Melayang yang kami rekam pertama untuk album terbaru ini, menjadi seperti lagu Ungu yang senafas dengan materi lagu di album pertama dan kedua,” tambah Oncy.
Bersama Enda, keduanya memainkan gitar berdistorsi pada lagu Melayang, tapi tetap dalam koridor musik rock yang punya harmoni tinggi. Keuntungan duet gitar Oncy-Enda adalah, keduanya memiliki karakter permainan yang beda, akhirnya dapat saling mengisi. ”Tugas saya sebagai Produser menjadi lebih ringan, karena saya menangani Ungu sebagai band yang udah jadi. Mereka adalah band yang kuat pada unsur entertain, dengan idealisme yang rasional. Karena pada album ketiga ini, Ungu telah berani membidik pasar yang lebih luas. Ungu kan pengen juga menjadi superstar, dengan penjualan album yang tinggi,” ujar Krisna J. Sadrach, leader Suckerhead, band rock yang lebih satu dasa warsa menguasai panggung musik cadas Indonesia, yang kini ditunjuk Trinity sebagai Produser Musik album Melayang.Musik Film dan Sinetron
Album Melayang berisi selusin (12) lagu, 90% bertema cinta universal. Makki menyebut, perubahan pada musik yang lebih mellow, romantis, tapi masih tetap ada benang merahnya dengan dua album terdahulu lebih diilhami pada keinginan agar Ungu dapat meraih pangsa pasar yang lebih luas, ”Jika dulu musik Ungu hanya dinikmati sebagian kecil anak SMP dan sebagian besar siswa SMA, kali ini Ungu pengen didengar oleh kalangan mahasiswa. Begitulah kira-kira. Tapi, jika music lovers pengen lihat karakter Ungu yang ngerock abis, bisa saksikan di panggung. ’Tekstur rock yang kental memang lebih tereksplorasi di live show Ungu, yang menjadi kelihatan gahar pula dengan kostum mereka yang terkesan macho. Bagi fans Ungu, mereka juga tetap bangga pada keunggulan band ini dalam menyiasati pasar, karena pada setiap album rekamannya, selalu ada lagu yang terpilih sebagai theme song musik film layar lebar atau sinetron. Antara lain untuk film Buruan Cium Gue (film yang sempat ditarik dari peredaran) dan Virgin, juga untuk 2 sinetron yang diambil dari lagu ’Bayang Semu’ dan ’Jangan Siakan’ dari album Laguku (2002). Dari album Melayang (September 2005) ini, Ungusedang bernegoisasi dengan produser film / sinetron untuk mengambil lagu ’Melayang’ dan ’Demi Waktu’ untuk produksi sinema Indonesia. ”Ini rezeki Ungu, kami bisa mendapat royalty tambahan dari film atau sinetron, sambil nitip berpromosi ke segmen anak muda penonton film,” tambah Enda. Ungu dibangun di Jakarta pada November 1996. debut rekaman dibuka melalui album Laguku (2002), lalu album Tempat Terindah (2004) dan Melayang (2005). Pada Tempat Terindah, Ungu mulai memakai double gitarist, dengan masuknya Oncy mantan gitaris Funky Kopral, yang memungkinkan tampilnya ekplorasi sound pada musik Ungu. Album Melayang digarap di dua studio yang berbeda, dengan konsep membuat aransemen secara workshop (bersama), sehingga hasil finalnya adalah menjadi ’sound music Ungu’. Pada album ini mereka memakai peran Iwan Hasan sebagai additional player pada piano dan membuat aransemen orkestra, Gatot pada keyboards dan Mozza backing vocal. Ungu adalah : Franco Medjaya Kusumah (Enda, 4 Maret 1978 pada gitar), Makki O. Parikesit (Makki, Jakarta, 23 Oktober, bassist), M. Nurohman (Rowman, Jakarta, 9 Januari 1974, drums), Arlonsy Miraldi (Oncy, Palu, 2 Oktober 1982, gitar), dan Sigit Purnomo Syamsuddin Said (Pasha, Donggala, 27 November 1979, vokal).
Album Melayang telah melahirkan first single ’Demi Waktu’, sebuah lagu dengan orkestrasi, romantis, kaya harmoni, yang video klipnya dipercayakan pada Gandy, dari Bantal Guling Production, seorang clip maker yang telah bekerjasama dengan Ungu untuk video klip ’Laguku’, ’Tempat Terindah’, ’Buruan Cium Gue’ dan ’Ciuman Pertama’ dari album Ungu sebelumnya.
