Tempat Terindah Ungu

March 30, 2006

Konser Ungu di Mojokerto, Puluhan ABG Pingsan

Filed under: Konser

Mojokerto - Konser grup musik Ungu asal Jakarta yang konser di GOR Mojopahit di Jalan Gajahmada, kota Mojokerto, Jawa Timur, Kamis (30/3/2006) siang, memakan korban.

Puluhan remaja yang sebagian besar para cewek yang menyaksikan konser ini banyak jatuh pingsan akibat berdesak-desakkan baik yang akan masuk ke gedung maupun yang sudah ada di dalam gedung.

Diduga, insiden ini akibat membludaknya jumlah penonton yang datang dari berbagai daerah dan kapasitas gedung sudah tidak mampu lagi menampung penonton.

Sementara kapasitas GOR Mojopahit hanya mampu menampung 4 ribu orang dan panitia menggerojog tiket sebanyak 3 ribu berupa karcis dan 1 ribu berupa kwitansi jumlah total 4 ribu karcis dan terjual semua.

Akibat banyaknya penonton yang sudah membeli karcis tapi tidak bisa masuk dan bergerombol di depan pintu masuk, karena merasa sudah membayar dan tidak bisa masuk maka ribuan penonton yang sebagian besar remaja sempat melakukan aksi dorong-mendorong dengan petugas kepolisian maupun panitia

Akibatnya, 2 pintu gedung dan pagar pembatas yang terbuat dari besi rusak didorong penonton serta puluhan gadis remaja pingsan akibat berdesakan .

Panitia segera bertindak cepat dengan mengerahkan 2 buah mobil ambulan milik RS Umum Kota Mojokerto dan RS Swasta Emma untuk mengevakuasi para korban

Ungu - Demi Waktu

Filed under: Video Klip


March 23, 2006

Konsert “Pesta Malam Indonesia”

Filed under: Konser, Foto

Konser Ungu

Filed under: Konser

 

 

LIIUR GROUP
KEMBALI MENGIRIS TART PERIKLANAN LEWAT
LIIUR EVENT ORGANIZER

Persaingan dunia promosi out door (event) yang semakin ketat, berakses pada persaingan event organizer yang kian menjamur dan kompetitif di seluruh dataran nusantara ini. Merespon positif kondisi tersebut, LIIUR Event Organizer yang selama ini tampak vakum (dalam skala nasional) bukan berarti tidak berbuat sesuatu. Wait and see dengan analisa yang rasional akan kondisi ekonomi makro di republik ini, kini LIIUR Event Organizer bergerak dan kembali mengiris tart periklanan pada habitatnya dengan menciptakan kontak produk sponsor kepada target bidik pasarnya lewat event “ KONSER UNGU

Terpilihnya UNGU sebagai materi konser, dengan analisa bahwa hasil survey diberbagai radio di Jawa Timur, group tersebut selalu mendominasi 3 besar urutan request dan tangga lagu lewat hit gacoannya DEMI WAKTU. Selain itu pada album sebelumnya, gerombolan anak muda tersebut selalu sukses dengan konser – konser meraka.

Bergandeng tangan membentuk tim solid bersama PT DJARUM KUDUS, LIIUR Event Organizer merencanakan konser tersebut pada :

Sabtu, 22 April ‘06 (19.00)     I T S Surabaya

Minggu, 23 April ‘06 (19.00)  Univ. Widya Mandala Surabaya

Selasa, 25 April ‘06 (19.00)   Std. Jenggolo Sidoarjo

Rabu, 26 April ‘06 (19.00)     Std. Semen Gresik

 
Melihat schedule diatas, Maka LIIUR Event Organizer bersama LA Light menunggu kedatangan para pecinta music anak negeri, untuk nongkrong di konser tersebut

March 20, 2006

Dikontrak Rekaman Di Malaysia

Filed under: News

SUKSES diraih grup musik Ungu setelah meliris album ketiganya, Melayang, pada bulan Januari lalu. Hal ini terbukti melalui penghargaan Double Platinum untuk album yang memiliki single andalan Demi Waktu ini.

Tak hanya itu, rencananya pada bulan April 2006 mendatang, band yang digawangi Pasha (vokal), Oncy (gitar), Enda (gitar), Rowman (drum) dan Makki (bas) ini dikontrak oleh salah satu perusahaan rekaman asal Malaysia untuk merekam kembali album ketiganya itu.

"Ungu dapat banyak tawaran di album ketiga ini. April mendatang kita akan adakan rekaman album di salah satu label rekaman Malaysia, sekaligus mengadakan konser di sana," kata Pasya.

Rencananya, Ungu akan berada di Malaysia selama dua pekan, setelah itu Ungu akan melanjutkan rencana tur ke seluruh wilayah Indonesia yang sempat terhenti. Kesuksesan yang diraih tidak lain karena kerja keras para personal dan juga label rekaman yang menaungi Ungu.

Selain rencana tur, Ungu juga akan mulai rekaman album keempat. Rencananya, album keempat Ungu ini akan dirilis akhir tahun 2006. Aliran musik Ungu tetap menawarkan musik remaja dan tema sosial. (AM/Ft: AK)*FM

March 13, 2006

Ungu cuba nasib di Malaysia

Filed under: News

MUNGKIN bagi peminat muzik di Malaysia, nama kumpulan Ungu masih belum dikenali,jauh sekali menjadi siulan ramai. Namun bagi peminat muzik di Indonesia, Ungu dikenali sebagai saingan hebat kepada kumpulan nombor satu, Peterpan dan Radja.

Kumpulan yang ditubuhkan pada 1996 ini sudah menghasilkan tiga album penuh dan beberapa album kompilasi bersama artis popular Indonesia.

Album pertama mereka berjudul Laguku diedarkan pada 2002. Salah sebuah lagu daripada album ini yang bertajuk Bayang Semu pernah menjadi lagu runut bunyi bagi sebuah sinetron yang ditayangkan di stesen RCTI.

Album kedua berjudul Tempat Terindah pula diedarkan pada 2004 di Indonesia. Menerusi album itu, mereka berpeluang menjadi MTV Exclusive Artist dengan single album Karena Dia Kamu.

Sementara album ketiga mereka berjudul Melayang baru sahaja menjengah di pasaran Indonesia pada 11 Disember tahun lalu. Apa yang membanggakan, dalam masa sebulan sahaja album ini berjaya dijual 150,000 unit dan mereka dianugerakan ‘Double Platinum’.

Perkembangan terkini pula menyaksikan album mereka kini sudah pun meningkat melebihi 300,000 unit di Indonesia.

Menurut Eksekutif Perhubungan Awam Suria Records Sdn Bhd (SRC), Rizweinta Irman Ridzwan, semenjak itu kumpulan Ungu menjadi rebutan beberapa syarikat rakaman terkenal di Malaysia.

“Akhirnya SRC diberi kepercayaan menjadi syarikat rakaman yang mengedarkan album ketiga Ungu berjudul Melayang di Malaysia. Album ini akan menjengah ke pasaran Malaysia pada hari ini.

“Mungkin ada segelintir membandingkan populariti Ungu dan kumpulan popular lain seperti Peterpan, Radja dan Dewa. Namun kami optimis akan mempunyai kelompok peminat yang tersendiri apabila lagu mereka bakal disiarkan di sini,” katanya.

Ungu dianggotai lima anak muda yang terdiri daripada Pasha (vokalis), Oncy (gitar), Enda (gitar), Makki (bass) dan Rowman (dram).

Lagu dan lirik album Melayang ini hampir semuanya dicipta gitaris Ungu sendiri iaitu Enda dan terdapat juga beberapa lagu dicipta oleh Oncy dan Pansha. Single pertama album ini yang dicipta Enda iaitu Demi Waktu cukup popular di Indonesia dan menjadi siulan ramai.

“Lagu ini kerap dimainkan di stesen radio di Indonesia. Ia cukup puitis dan mengusung tema cinta universal. Single ini berjaya melayakkan Ungu muncul sebagai ‘Band Favorite 2005’ anjuran Indonesia News Channel.

“Klip video untuk lagu ini juga sudah siap penggambarannya dan dilakukan di Pasar Tanah Abang. Uniknya, penggambaran dibuat di kawasan tanah perkuburan dan klip video dilakukan dalam hujan lebat.

“Kami akan membawa Ungu ke Malaysia bagi rangka promosi selama tiga hari bermula 16 hingga 18 April ini. Pihak SRC juga mengatur beberapa jadual promosi yang cukup padat untuk mereka dan akan ditemubual beberapa stesen radio dan televisyen tempatan,” katanya.

Ungu ketika dihubungi pihak SRC, memberitahu mereka tidak sabar untuk datang ke Malaysia. Ungu juga amat bersyukur kerana peminat di Malaysia menyambut baik muzik mereka. Malah mereka berjanji akan memberi layanan terbaik buat peminat dan bakal peminat sepanjang berada di sini nanti.

March 11, 2006

ADA “UNGU” DI UNITOMO

Filed under: Konser

Band asal Bandung "UNGU" yang lagi ngetren saat ini dan di gandrungi oleh banyak kaum remaja, sabtu besok tanggal 11 Maret 2006 jam 19.00 sampai selesai akan tampil di Unitomo. Acara terselenggara atas kerja sama UKM MAPALAS UNITOMO dengan Djarum LA LIGHT [ badar ]

March 10, 2006

Undisputed UNGU

Filed under: News

This pop group from Jakarta, named after the color purple, drew serious numbers to Kuta live venue, Kama Sutra, on March 10th, proving their crowd pulling abilities to any with doubts. UNGU vocalist, Pasha, displayed his talents as a frontman as he chatted amiably with the audience, told some jokes, and even pulled up a member of the audience to participate in a light hearted contest for a free t-shirt. Musically, the crowd dug what they heard as evidenced by sing-a-long participation and jump ‘n bump movement during the performance to numbers such as “Meleyang” (Floating) and “Jika Itu Yang Terbaik” (If That’s the Best). Judging from the 700 plus audience turnout, it would appear that UNGU aren’t going anywhere but up.

Interview with UNGU

UNGU is perhaps not yet a household name in terms of pop groups, but this Jakarta band is definitely going places. They gave the beat a few minutes before their Kama Sutra appearance to answer some questions.

Beat : Welcome to paradise! Is this your first tour in Bali?
UNGU : It’s our third time here, actually. We played at the Soundrenaline festival before (Indonesia’s version of The Big Day Out).
Beat : Have there been any juicy rumours surrounding your band?
UNGU : Hmmmm….nothing big so far. Just a few folks saying that we are breaking up, etc.
Beat : As a young group, who are the biggest celebrities in your cell phone address book?
UNGU : We have Dewa Budjana’s (Balinese guitarist for Gigi) digits as well as Ariel and Reza’s (of Peterpan) numbers.
Beat : What’s the strangest thing on your dressing room rider (list of band necessities)?
UNGU : Pasha (vocalist) doesn’t want a dressing room with air conditioning!
Beat : Do you have any good stories about band experiences?
UNGU : Once, when we were on stage, there was a girl in the front row that fell into trance and the spirit that possessed her sounded like a 7 year old girl who said she really wanted to see us live!

Ooh…spooky! UNGU even appear to attract fans from the nether regions! Don’t miss their next Bali gig. You won’t be disappointed.

Personil Ungu

Filed under: About Ungu

Vokalis : Pasha

Gitaris : Enda

Gitaris : Onci

Bassis : Makki

Drummer : Rowman

(klik nama utk biografi)

UNGU - Seperti Yang Dulu

Filed under: Video Klip, Single

Dear All,

Sebelumnya UNGU mengucapkan terima kasih atas dukungan teman-teman sehingga album Melayang memperoleh Penghargaan Platinum 1 bulan setelah rilis.

Lagu DEMI WAKTU, memang jadi pemicu UNGU untuk lebih baik lagi dalam bermusik.  Lagu kedua kita yang sekarang juga sudah mulai terdengar adalah SEPERTI YANG DULU.

UNGU baru saja selesai shooting video klip Seperti Yang Dulu.  Video klip nya dibuat oleh Abimael Gandy, sutradara yang sama dengan yang membuat video klip Demi Waktu.  Dan ceritanya pun adalah prequel dari Demi Waktu.

Kalau di video klip Demi Waktu, UNGU minta ijin sama Tyas untuk bersama Rianti.  Di video klip Seperti Yang Dulu diceritakan waktu UNGU masih bersama Tyas, apa yang menyebabkan Tyas akhirnya ‘nggak ada’ dan bagaimana UNGU akhirnya bertemu Rianti.

Penasaran?!  Tongkrongin tv kamu sekarang juga…

{milis}

March 9, 2006

About Ungu

Filed under: About Ungu

Alkisah tahun 1996, ada segerombolan anak muda sedang iseng-iseng berkumpul di sebuah studio di bilangan Tebet. Awalnya mereka datang dengan band-nya masing-masing, tapi karena sering ketemu, jadilah mereka sering ngobrol sampe nge-jam bareng. Acara nge-jam bareng ini nggak berakhir di studio latihan aja, tapi juga ke panggung-panggung 17an dan pensi-2 sekolah di seputaran Tebet. Namanya band manggung, musti punya nama dong… jadilah Ungu. Kenapa Ungu? Kenapa nggak? (ini jawaban paling standard dari mereka kalau ditanya kenapa namanya Ungu). Yang jelas sih mereka mencari nama yang sederhana dan mudah diingat.

Setelah berkarir di seputaran Tebet, mulailah tawaran-tawaran manggung berdatangan sampai akhirnya personil Ungu berguguran karena dibajak band lain lah, karena harus kuliah lah dan sebagainya. Proses gonta ganti personil ini berlanjut cukup lama dan cukup sering. Sekitar sembilang kali kurang lebih. Salah satu mantan personil yang sekarang dikenal sebagai penyanyi solo adalah Ariyo, sebelum bergabung dengan SOG (Iya! Ariyo yang itu!)

Sejak awal manggung, Ungu sudah mulai membawakan lagu2nya sendiri. Mulailah beberapa orang terdekat mereka menyarankan agar mereka mencoba menawarkan lagu2 tersebut ke perusahaan recording untuk bikin album. Pada tahun 2000, Ungu ditawarin untuk mengisi sebuah album kompilasi di Warner Music Indonesia. Bersama Lakuna, Borneo, Piknik dan Energy (bukan Energy yang dari Taiwan itu yah!) masing-masing menyumbangkan dua buah lagu untuk album kompilasi KLIK. Dua lagu Ungu judulnya Hasrat dan Bunga. Saat kompilasi ini pun personil Ungu belum seperti komposisi saat ini.

Punya dua lagu dalam album kompilasi ternyata jadi pemicu mereka untuk bikin lagu lebih banyak lagi dan berharap dapat membuat album penuh. Setelah muter-muterin ibukota yang kejam ini untuk mencoba memperdengarkan lagu-lagu mereka ke berbagai label, akhirnya mereka bertemu sekelompok orang yang menamakan dirinya BAR & Co. BAR & Co. ini tertarik pada materi lagu Ungu dan bersedia menjadi Producer untuk album penuh Ungu dan akhirnya nyangkutlah Ungu di Hemaswara/Musica Group.

Setelah proses yang panjang dalam rekaman dan bahkan harus kembali kehilangan personil, album pertama Ungu dirilis tanggal 6 Juli 2002. Album yang diberi judul Laguku ini mengemas 12 lagu yang bervariasi. Begitu seriusnya mereka ingin tampil total, Ungu meminta Mas Sawung Jabo untuk membuatkan aransemen untuk strings section yang kemudian digarap oleh Banyu Mili, strings section dari Jogjakarta.

Nggak disangka juga bahwa single pertama, Bayang Semu, yang juga jadi soundtrack sinetron ABG, membawa Ungu ke berbagai kota di Indonesia untuk mengadakan live performance. Sejak album itu beredar, Ungu sudah tampil di hampir 100 panggung di seluruh Indonesia.

Perjalanan tour mereka nikmati benar, tapi nggak kerasa juga bahwa deadline album kedua semakin dekat. Sambil tour, ntah di bis, di pesawat, maupun di kapal ferry, Ungu nyempetin genjreng-genjreng untuk bikin lagu. Curhatan-curhatan ala cowok pun bisa jadi inspirasi lagu. Gak bisa dipungkiri, seringnya mereka pergi keluar kota membuat beberapa orang diantaranya jadi diputusin pacarnya. Sedih memang, tapi itu jadi sumber inspirasi yang gak ada habisnya.

Oya, inget dong kalo dulu Ungu berempat. Nah, karena setiap manggung Ungu selalu butuh gitaris tambahan, maka ada beberapa orang gitaris yang pernah mengisi kekosongan itu, sebut saja Ari Rasa dan Onci eks Funky Kopral. Ntah sama gilanya atau karena memang selera musiknya sejalan, akhirnya Onci meng-iyakan waktu ditawari untuk bergabung sebagai anggota kelima Ungu.

Kalau proses rekaman album pertama cukup panjang, maka proses rekaman album kedua Ungu bisa dibilang sangat singkat. Cuma dalam waktu 3 minggu semua materi sudah harus kelar diaransemen dan direkam. Kerja keras? Iya banget! Ungu jadi sering tidur di Hijau studio di bilangan Radio Dalam dan telat makan. Efeknya? Jangan ditanya… beberapa dari mereka langsung terkapar sakit. (Hmm.. masih lumayan gak sempet ada yg masuk rumah sakit kayak Pasha waktu rekaman album pertama).

Akhirnya waktu yang ditunggu-tunggu tiba. Kelar juga album kedua ini dan diberi judul sesuai harapan mereka, (menuju) Tempat Terindah. Masih nggak pelit, tetep ngasih 12 lagu. Malah di kemasan CD ada bonus versi akustik lagu Suara Hati dan VCD behind the scene making the video single pertama di album ini, Karena Dia Kamu.

Apa bedanya dengan album pertama? Kamu yang tentukan! Selamat menikmati musik Ungu…..

March 7, 2006

melayang tinggi dengan album melayang

Filed under: News

Proses pemilihannya sangat demokratis, kami banyak berdialog dengan label dan mencoba memahami minat pasar…

Pengambilan judul Melayang untuk album Ungu, punya maksud tersendiri. Selain ingin keberadaan mereka terus melayang di tingkat atas, Ungu ingin menjelaskan satu hal. “Kami ingin masyarakat tahu, kalau lagu Melayang baru ada di album ini. Yang soundtrack Cinta SMU itu, meski ada kata-kata melayangnya, judul sebenarnya Bayang Semu,” ujar Pasha sang vokalis.


memang masih sulit mengalihkan atensi pasar musik dari lagu-lagu band laris macam Peterpan dan Radja. Tapi bukan berarti tak ada satu dua grup musik yang mampu mencuri perhatian. Ungu salah satu yang berpotensi mengikuti jejak mereka. Tembang anyar mereka, Demi Waktu yang mellow merajai tangga lagu dan ajang permintaan lagu di berbagai radio. Liukan suara Pasha, sang vokalis, seakan ingin menjelajah hati orang lewat bait-bait lirik penuh penyesalan hasil goresan gitaris mereka, Enda. //Maafkan aku/ Menduakan Cintamu/ Berat rasa hatiku/ tinggalkan dirinya/ Dan demi waktu/ Yang bergulir di sampingku/ Maafkan diriku setulus hatimu/ Seandainya kubisa memilih//.


Menanjaknya lagu tersebut, turut mendongkrak penjualan album terbaru mereka, Melayang. Album berisi 12 lagu, yang baru masuk ke toko-toko kaset 11 Desember lalu, hanya dalam 2 minggu masa edar telah terjual hingga 100 ribu keping. “Kami bersyukur lagu tersebut mendapat respon baik dari masyarakat,” ujar Rowman sang dramer. Jumlah itu terhitung luar biasa untuk Ungu. “Sebab pada album sebelumnya tak pernah mencapai titik setinggi ini, dengan waktu singkat pula,” tambah o­nci sang gitaris dengan nada riang.

Melayang diluncurkan setelah Ungu vakum dari dapur rekaman 1,5 tahun. “Bisa dibilang album kali ini album paling terencana yang pernah kami buat. Pendengar bisa merasakan kedewasaan bermusik kami. Materi yang ada pun lebih catchy dan nge-pop. Tapi saya jamin karakter Ungu sama sekali tidak hilang,” jelas Pasha.

Lagu yang tersaji dalam Melayang diseleksi dari 30 lagu yang ada di bank data Ungu. “Proses pemilihannya sangat demokratis, kami banyak berdialog dengan label dan mencoba memahami minat pasar,” jelas Oci. Kalau hampir 90 persen lagu bercerita tentang keuniversalan cinta, bukan karena direncanakan. “Kami membuat lagu sesuai apa yang ada di pikiran kami. Mengalir begitu saja, tanpa harus ada aturan ini itu. Prosesnya pun sama dengan lagu-lagu kami terdahulu, tiap lagu dibahas oleh semua personel,” celoteh Pasha. Mengenai dominasi lagu romantis, o­nci menjelaskan. “Kebanyakan terinspirasi kisah pribadi personel atau teman-teman kami. Jadi terasa lebih pribadi saja,” jelas mantan gitaris Funky Kopral ini. Boleh dibilang Ungu seperti ingin lebih mendekatkan diri dengan pendengar musik.

Kalau dibandingkan dengan album Laguku (2002) dan Tempat Terindah (2004), Melayang jelas lain. Banyak bunyi-bunyian berbeda yang diperdengarkan. “Pada album ini kami ingin meminimalkan distorsi musik. Gantinya kami banyak memainkan musik secara akustik,” bilang o­nci. Selain itu ada juga warna yang belum pernah muncul sebelumnya. Coba dengarkan singel Demi Waktu lekat-lekat. Nuansa romantis yang begitu kental muncul karena masuknya aransemen orkestrasi, garapan Iwan Hasan.

Untuk album ini personel Ungu berbesar hati menekan ego bermusik mereka. “Kalau dulu kami selalu mengekspresikan apa yang kami mau. Tiap orang bebas mengeluarkan segenap ide-ide kami. Kali ini setelah berembuk dengan pihak label. Kami pun sepakat untuk menahan diri. Artinya kami pun harus memerhatikan keinginan pasar, memerhatikan unsur komersial,” jelas Makki, pembetot bas Ungu. Secara umum bisa dikatakan benang merah musik Ungu pada album ini,harmonisasi genre rock dan pop. Musik rock tergambar lewat lagu-lagu macam Melayang, Berjanjilah, dan Dari Satu Hati. Sedang unsur pop terekam jelas pada lagu Tercipta Untukku, Seperti Yang Dulu, dan Sejauh Mungkin. Yang pasti lagu-lagu yang ada lebih memudahkan Ungu untuk menyapa pembeli kaset.

Perubahan lain, Ungu berani memangkas durasi lagu. Sebelum ini, lagu mereka ada yang berdurasi 6 hingga 7 menit. Kini untuk lagu Demi Waktu, mereka rela memangkasnya menjadi 3 menit 10 detik saja. Tujuannya jelas, selain untuk memanjakan kuping pendengar, juga untuk memperkuat unsur visual. “Dengan pemangkasan itu, jadi memudahkan untuk dibuat video klipnya,” jelas o­nci.

Semua strategi yang dibuat Ungu dikomentari sang produser, Krisna J. Sadrach, mantan personel grum musik Suckerhead. “Tugas saya sebagai produser menjadi lebih ringan, karena band yang sudah matang. Mereka adalah band yang kuat dengan unsur hiburan, dan memiliki idealisme rasional. Perubahan pada album ketiga ini tentunya memungkinkan mereka membidik pasar yang lebih luas, dan tentunya lebih berpeluang memiliki penjualan yang tinggi,” komentar Krisna.

Sudahkah kemajuan itu dirasakan para personel Ungu? “Kami merasakan intensitas pemutaran lagu Demi Waktu di radio-radio cukup tinggi. Kami akui ternyata melempar lagu mellow merupakan strategi yang tepat untuk menembus publik musik Jakarta,” ulas Makki. Untuk memperkenalkan lagu-lagu hits-nya terdahulu, Ungu harus bergerilya terlebih dulu ke daerah-daerah. Kalaupun Bayang Semu singel dari album perdana melesat naik, karena dijadikan soundtrack sinetron Cinta SMU. Di balik setumpuk pujian, selalu ada kritikan. Dan anak-anak Ungu menghadapinya dengan lapang dada. “Meskibanyak yang suka lagu romantis, ada juga penggemar lama yang protes kenapa bukan lagu up beat yang diduluin,” beri tahu Pasha. Tapi Ungu jalan terus dengan agenda yang telah disusun. “Sekarang kami sedang gencar promo album di Jakarta, baru menyusul daerah-daerah lain,” tambah Makki. Menggenapi kesuksesan mereka, pihak label segera berencana membuat video klip kedua, Seperti Yang Dulu. Lebih dari itu, Demi Waktu dan Melayang memasuki tahap negosiasi dengan sebuah rumah produksi untuk dijadikan soundtrack sinetron. Personel Ungu berharap kesuksesan ini terus berlanjut. “Intinya tiga kata kami ingin, Ungu Melayang Sejauh Mungkin,” ujar Pasha merangkai 3 buah judul lagu di album Melayang.Yang pasti jadwal manggung makin padat, dong?

Ungu: melayang setelah nyaris tenggelam

Filed under: News

Selain faktor musik, ada faktor lain yang berada di balik kesuksesan Ungu. “Komunikasi. Saya rasa bukan cuma di Ungu. Sukses rumah tangga, pekerjaan sangat bergantung pada komunikasi. Kalau ada masalah sebesar apa pun selalu kami obrolin. Sebab dengan begitu kami bisa lepas dari berbagai masalah,” ungkap Pasha lagi.

tak salah Ungu memberi judul album anyar mereka Melayang. Buktinya, baru sekitar dua bulan beredar –dirilis 11 Desember 2005– angka penjualan album ketiga Ungu ini langsung melayang ke angka 300 ribu keping. Bukan mustahil, angka itu nantinya makin meninggi.

Angka penjualan album terakhir ini bisa dibilang mengingkari tradisi Ungu. Penjualan dua album sebelumnya, Laguku (2002) dan Tempat Terindah (2004), mentok di angka 150 ribu keping. Toh meski berpotensi makin meningkatkan angka penjualan, Pasha (vokal), Makky (bas), Rowman (dram), Enda (gitar), dan o­nci (gitar) tak mau takabur. “Saya nggak berani buat patokan (harus terjual berapa). Saya pun tak terobsesi harus laku 2 juta kopi. Yang penting utang kami (ke perusahaan rekaman) harus dapat platinum sudah terbayar. Kan lucu kalau dulu dapat 150 ribu sekarang cuma 75 ribu,” ujar Pasha yang gemar mengendarai motor besar ini.

Apa sebenarnya kunci sukses Ungu? Jawabannya, kedewasaan bermusik. “Dulu ketika pertamakali rekaman musik Ungu over skill di beberapa hal. Ya, over play, over sing atau over arrange. Ini kesalahan yang sebenarnya banyak dilakukan musisi yang pertamakali rekaman serius, ya termasuk kami. Album kedua juga masih begitu. Namun kami sedikit mengerti apa yang orang mau,” jelas Makky. Nah di album ketiga Ungu berusaha tak mengulangi kesalahan ini. “Di album ini kami lebih sedikit wise. Kami fokus ke lagu. Aransemennya dibuat ngepas supaya orang bisa fokus ke lagunya,” tandasnya.

Makky benar. Album ini memang tak serumit dua album sebelumnya. Malah bisa dibilang lebih ringan dan akrab di kuping. Tengok saja singel Demi Waktu. Tembang itu lebih ngepop dan mellow. Sebelumnya, tak ada tembang Ungu yang seperti ini. Tembang ini yang berjasa mengantarkan Ungu ke tangga sukses. Tembang yang dibesut Enda ini sebenarnya sudah cukup lama ada di list lagu Ungu. Cuma lagu itu baru dikeluarkan di album Melayang. “Biasanya, kami bikin lagu yang jingkrak-jingkrak. Namun tiba-tiba ada lagu melankolis. Dari segi panggung sebenarnya saya malas bawain Demi Waktu. Tapi sekarang justru saya semangat banget bawain-nya. Lagu ini menjadi sejarah buat Ungu, di saat kami lagi terpuruk. Lagu itu membuat kami sukses. Penggemar selalu meminta lagu itu saat konser,” ujar Pasha. Selain faktor musik, ada faktor lain yang berada di balik kesuksesan Ungu. “Komunikasi. Saya rasa bukan cuma di Ungu. Sukses rumah tangga, pekerjaan sangat bergantung pada komunikasi. Kalau ada masalah sebesar apa pun selalu kami obrolin. Sebab dengan begitu kami bisa lepas dari berbagai masalah,” ungkap Pasha lagi.

Sukses Melayang membuat Ungu dibanjiri tawaran manggung, termasuk di dua daerah yang sebelumnya dianggap angker buat mereka, Jakarta dan Bandung. “Dulu saya nggak pede kalau manggung di Jakarta. Di Bandung, Ungu hampir nggak pernah manggung di sana. Kalau pun manggung nggak banyak yang nonton. Ya, mungkin dulu musik kami belum diterima di sana. Namun sekarang responsnya tuh heboh banget. Kalau manggung di dua kota itu pasti ramai. Bahkan laporan dari recording company, penjualan terbanyak album kami di dua daerah itu,” celoteh Pasha.

Rowman lalu memberi contoh. Beberapa waktu lalu mereka tampil di sebuah mal di kawasan Jakarta Timur. Saking padatnya penonton, dari 5 lagu yang direncanakan bakal dibawakan, cuma 3 lagu yang berhasil mereka tuntaskan. “Penontonnya padat sekali. Daripada terjadi sesuatu yang nggak diharapkan, kami putuskan cuma mainkan 3 lagu saja,” sahut Rowman yang sepintas mirip Bimbim, dramer Slank.

Masih soal manggung, intensitas Ungu belakangan memang makin padat. Dalam seminggu mereka bisa manggung lebih dari 4 kali. Bahkan tak jarang mereka manggung 2 kali dalam satu hari. “Tapi kami berusaha membuat waktu 1-2 hari untuk istirahat. Jangan setiap hari manggung. Kejar setoran boleh tapi harus tetap beristirahat,” tutur Pasha lagi. Buntut jadwal manggung yang padat, waktu mereka habis di jalan buat tur.

Konsekuensi jadwal manggung yang padat, mereka harus rela sering berpisah dengan keluarga. Asal tahu saja. Kecuali o­nci, semua personel Ungu sudah menikah. Pasha, Rowman, dan Makky bahkan sudah punya anak. Sedangkan Enda tengah menanti kelahiran anaknya. “Untuk mengobati rindu itu paling telepon-teleponan saja. Pokoknya harus ada komunikasi,” ujar Rowman. Makky punya cerita lucu. Gara-gara ia pergi terlalu lama, anaknya bahkan tak mengenalinya lagi. “Suatu kali sehabis pulang tur saya mendapati anak saya memegang majalah yang cover-nya ada saya. Kehadiran saya sama sekali nggak digubrisnya. Dia malah menciumi majalah itu. Sedangkan yang aslinya nggak diapa-apain,” terang Makky sambil tertawa.

Sukses yang kini diraih pastinya sangat disyukuri personel Ungu “Kami mensyukuri kemajuan yang dialami Ungu. Cuma belum bisalah dibandingkan dengan band-band besar yang sudah (menjual) 2-3 juta kopi. Ungu baru 300 ribu kopi, tapi itu sebuah prestasi untuk kami. Yang jelas, ini bukan titik akhir, malah jadi semangat baru untuk kami,” tandas Pasha lagi. Toh sukses itu, kata Makky, ibarat pedang bermata dua. Bukan tak mungkin kesuksesan ini malah jadi bumerang. “Okelah kami sekarang sudah mapan.Kami punya nama yang lumayan, penghasilan yang lumayan, dan sudah punya posisi di industri (musik), namun pertanyaannya masih nggak kami bisa akur setelah itu? Ya, saya cuma bisa berharap kami bertahan terus,” tambahnya Makky. Sukses itu juga mendatangkan beban. “Ke depannya kami juga harus bisa lebih baik dari sekarang. Dan itu tentu bukan hal mudah,” katanya lagi.

Butuh 10 tahun buat Ungu untuk sukses. Band yang berdiri pada 1996 ini berakar dari gerombolan anak muda yang iseng-iseng berkumpul di sebuah studio di bilangan Tebet. Masing-masing sebenarnya punya band, tapi karena sering ketemu, jadilah mereka nge-jam bareng. Belakangan acara nge-jam ini tak cuma di studio saja, tapi merembet ke panggung-panggung 17 Agustus-an dan pensi-pensi sekolah di seputaran Tebet. Agar punya nama panggung, dipilihlah nama Ungu, karena sederhana dan mudah diingat. Belakangan personel awal Ungu berguguran karena berbagai alasan. Ada yang dibajak band lain, ada pula yang lebih mementingkan kuliah ketimbang bermusik. Proses gonta ganti personel ini sangat sering dan berjalancukup lama. Kalau dihitung bisa sekitar sembilan kali gonta-ganti. Satu-satunya personel awal Ungu yang sampai sekarang bertahan adalah Makky.

Pada 1999, Ungu punya vokalis baru, Pasha. Pasha mengawali kariernya sebagai model dan telah muncul di beberapa iklan televisi, sinetron, plus bergabung dengan beberapa band sebelum Ungu. Sejak awal manggung, Ungu membawakan lagu-lagu ciptaan sendiri. Beberapa orang terdekat mereka menyarankan agar mencoba menawarkan lagu-lagu mereka ke perusahaan rekaman. Siapa tahu ada yang mengajak membuat album. Pada 2000, bersama Lakuna, Borneo, Piknik, dan Energy, Ungu diminta mengisi album kompilasi buatan Warner Music Indonesia, bertajuk Klik. Ungu menyumbangkan dua lagu, Hasrat dan Bunga. Sekadar informasi, saat album kompilasi ini dibuat, para personel Ungu belum seperti komposisi saat ini. Setahun berselang 2001, Ungu merekrut Enda. Ia awalnya teknisi gitar untuk band ini. Ketika kebutuhan akan gitaris kedua muncul, Enda membuktikan ia orang yang tepat untuk mengisi posisi itu. Di tahun yang sama masuk pula Rowman yang mantan dramer grup musik rock Garux, yang sempat meramaikan dunia musik Indonesia.

Punya dua lagu dalam album kompilasi jadi pemicu buat Ungu membuat lagu lebih banyak lagi. Dengan harapan kelak bisa membuat album utuh. Setelah menawari lagu-lagu itu ke berbagai label, mereka bertemu sekelompok orang yang menyebut diri BAR & Co. BAR & Co. tertarik pada materi lagu Ungu dan bersedia memproduseri album perdana mereka. Setelah proses panjang dalam rekaman, lagi-lagi Ungu kehilangan personel. Tapi tidak menghambat perilisan album pertama mereka pada 6 Juli 2002, dengan judul Laguku. Album ini mengemas 12 lagu yang bervariasi. Ungu dibantu Sawung Jabo dalam aransemen, sementara string section yang digarap Banyu Mili yang asal Yogyakarta. Bermodalkan single pertama Bayang Semu yang juga jadi soundtrack sinetron ABG, Ungu menyambangi berbagai kota di Indonesia mengadakan pertunjukan.

Tur keliling Indonesia itu mereka nikmati, sampai tak terasa sudah dikejar deadline album kedua. Sambil tur, entah di bus, pesawat, maupun kapal ferry, personel Ungu menyempatkan diri membuat lagu. Kalau proses rekaman album pertama cukup panjang, maka proses rekaman album kedua sangat singkat, cuma tiga minggu. Album kedua yang berisi 12 lagu ini diberi judul Tempat Terindah. Oh, ya, di album kedua ini masuk o­nci, mantan gitaris band Funky Kopral.

Toh walau sudah punya dua album, Ungu belum bisa digolongkan band populer. Sulitnya mengejar kesuksesan ini sempat bikin frustrasi para awak band. “Kalau bicara individu, mungkin kami semua sudah capek. Saya juga mengalami itu. Apalagi dengan problem intern yang lebih gila. Dulu tuh kami sering berantem juga lho. Bahkan sampai ada kubu-kubuan segala. Saya bahkan pernah curhat pada teman-teman kalau saya nggak kepengin ikut lagi band ini,” cerita Pasha. Band ini sempat vakum bikin album. Mereka cuma ikut proyek album Senyawa bersama Chrisye dan Tribute to Titiek Puspa. Bahkan sampai album ketiga, Ungu pun sebenarnya tak terlalu optimistis. “Ini album yang ketiga lho, kasarnya kalau sampai nggak laku juga, ya mendingan tahu diri deh. Jangan maksain. Lebih baik cari kerjaan lain. Kalau tak berhasil lagi mungkin saya akan bilang ke anak-anak, rezeki kita mungkin bukan di sini,” serunya. Tapi toh nasib kemudian berkata lain. Melalui album anyar mereka, Ungu akhirnya merengkuh sukses. *bin

Ungu ‘Dibajak’ di Malaysia, Dinanti di Amerika

Filed under: News

Sukses dengan singel ‘Dewi Waktu’ nya, Ungu siap Melayang, menjejaki dunia luar dengan musik mereka. Perhentian pertama, bulan april nanti Ungu akan merilis album Melayang di negeri jiran, Malaysia. Rilis album ini terhitung telat, soalnya album bajakan udah keburu beredar luas disana.

“Kita enggak nyangka, album ini baru keluar tapi udah banyak tanggapan dari luar (negeri),” ujar Makki Bassist Ungu ketika dihubungi KG. Malah, dua album ‘Laguku’ dan ‘Tempat Terindah’ versi bajakan udah beredar luas di Malaysia. Untuk mengantisipasi makin maraknya piracy, maka Ungu memutuskan merilis secara resmi.

Kedatangan Ungu ke Malaysia sekitar 13-18 April merupakan pengalaman pertama bagi mereka. Tapi dasarnya lagi ‘naik daun’ ya, jadwal mereka udah penuh. Mulai dari showcase, interview TV-Radio, sampai, “Ada orang Malaysia yang mau bikin konser kita, ya belum pasti sih,“ tutur cowok kelahiran 23 Oktober 1971 ini. Nanti, Ungu juga bakal tampil dengan musisi Top Indonesia seperti Dewa, Padi, dan Ari Lasso dalam sebuah acara.

Enggak cuma orang Malay aja, publik Amerika juga menanti penampilan band asal ‘Tebet’ ini. “Inisiatif sih dari gue, gue masih punya banyak temen di San Fransisco, mereka bilang kenapa enggak bawa band lu aja, Sebelumnya kan mereka udah pengalaman bawa Gigi,“ cerita Makki.

OgahKalo Cuma main di satu dua kota, Makki dan teman-teman menggagas ide East Coast dan West Coast Tour. “Nanti kita main tiga kota di east dan west, beberapa tempat udah oke,“ imbuh Makki.

Kalo enggak ada aral melintang, Pasya (vocal), Oncy (gitar), Enda (gitar), Makki (bas) dan Rowman (drum) bakal main di negeri paman sam sekitar bulan Agustus. Ya sudah, Malaysia ataupun Amerika, semoga dua-duanya lancar ya.

Wawancara Khusus dengan Ungu

Filed under: News
Perjalanan Ungu Band, yang digawangi, Pasha (vokal), Makki (basist), Rowman (drum), Enda (gitar) dan Oncy (gitar) sudah memasuki tahun ketiga, sejak album pertama Laguku yang booming di tahun 2003, Ungu kini sudah mulai disejajarkan dengan band papan atas Indonesia lainnya.

Apalah setelah mereka berhasil menyabet double platinum berkat album Melayang (2005) yang berhasil terjual 1.500 kopi dalam waktu satu bulan, dengan hit ‘Demi waktu’. Namun, seiring kesuksesan mereka melayang ke tempat yang terindah, Pasha dkk diterpa gosip miring tidak mampu bersaing dan berkarya dengan baik secara musikalitas.

Ini disebabkan, karena warna musik rock yang mereka usung semula, berganti menjadi pop easy listening, demi untuk menembus pasar industri. Benarkah demikian? Ditemui di ajang jumpa pers mereka di Botol Musik, Quality Hotel Makassar dalam tajuk Valentine with Ungu, Selasa 14 Februari kemarin, baik Pasha maupun personel lainnya sama-sama kompak menampik hal tersebut.

"Kami tidak menjual musik easy listening, kalau memang hit yang kita hadirkan selama ini nuansanya ke sana, itu hanya karena kebetulan saja pembatasannya sampai di situ. Mengenai pasar kami tidak mau munafik, kita juga pikirin, tapi tidak semua dari lagu-lagu kami mellow. Kita cukup berwarna kok dari album pertama hingga ketiga ini, karena memang kami berasal dari genre yang berbeda," papar Makki.

Lebih lanjut Makki berkata, mereka tidak pernah memposisikan warna pasti dari musik mereka. "Selama ini kita main sesuai dengan selera masing-masing, saya dengan unsur jazz yang kental, Oncy dengan punknya, Pasha dengan popnya dan Edan dengan hard rocknya. Apa warna musik yang keluar saat ini adalah hasil pencampuran dari semua unsur musik tersebut, kita tidak secara sadar memposisikannya bahwa harus easy listening, mellow dan sebagainya, hanya kebutulan begitu saja terjemahannya. Kami tidak menjual musik yang sekadar easy listening," kata lelaki hitam manis tersebut.

Sementara mengenai ketidakbisaan mereka berkarya dengan baik, Pasha menjawabnya dengan bijak. "Kita sendiri tidak bisa membahasakan bahwa apa yang kita lakukan selama ini adalah yang terbaik dari lainnya. Yang jelas, semua album yang kami luncurkan adalah murni dari kerja keras kami, pikiran kami, dan tenaga kami. Termasuk album ketiga ini, benar-benar kami yang memikirkannya hingga sampai terbentuk seperti ini, dengan single hit yang juga buatan asli Edan," kata lelaki yang tidak lagi membujang tersebut.

Edan pun lantas mengungkapkan pembuktian akan hal itu. "Sangat bersyukur karena karya kami sendiri, sampai bulan Agustus nanti pun kami belum bisa beristirahat, ketemu dengan orang-orang terdekat dan keluarga karena berbagai tugas show yang harus kami jalani. Bahkan, boleh dikata hampir setiap hari kami harus manggung, ini aja juga begitu. Kemarin manggung di Jogja, hari ini (kemarin, red) sudah harus main lagi di Makassar, so biarkan masyarakat yang menilai saja," tuturnya.

"Mau orang bilang apapun, itu urusan mereka, yang jelas kita berterima kasih masih mau diperhatikan sampai saat ini. Kita juga terima kasih pada semua fans dan media yang telah mendampingi kami, tanpa kalian kami tentunya bukan apa-apa, dan tidak akan seperti saat ini," pungkas Pasha menutup pembicaraan.

Pasha “Ungu” MEMBUAT SANG ISTRI IRI

Filed under: Pasha

Kesibukan Pasha atau Sigit Purnomo Syamsuddin Said (26) sebagai vokalis Ungu tak mengurangi perhatian dan porsi tugasnya sebagai ayah. Terbukti saat Kiesha Alvaro Putra Sigit (1,5) baru lahir, ia rela bergiliran bangun tengah malam dengan sang istri Okie Agustina Sofyan (23). "Bukan karena saya laki-laki lantas tak mau membantu istri dalam mengurus anak. Saya juga bisa lo menggendong dan membuatkan susu," ujarnya.

Gantian Jaga

Bangun malam untuk memberikan susu kepada Keisha telah dilakoni Pasha walau harus sembari terkantuk-kantuk. Hal itu berlangsung sekitar 3 bulan semenjak kelahiran sang buah hati. Meski lelah, Pasha berusaha menjalankan tugas tersebut. Ia pun mengaku, sesekali emosinya terpancing oleh kerewelan si kecil yang sering tak langsung tertidur kembali setelah minum susu. Namun, tugas itu menurutnya belum apa-apa dibandingkan menjaga Keisha ketika sudah bisa berjalan dan mulai banyak ingin tahu. "Saya harus membuntuti terus tapi kan sulit mengejar-ngejarnya, he…he…" tutur pria yang ingin menanamkan nilai-nilai agama dan sopan santun dalam pengasuhan.

Keterlibatannya dalam mengasuh Keisha ternyata membuahkan kelekatan. Sampai-sampai sang istri mengaku iri. "Kalau Keisha ngantuk, yang ditarik pasti tangan saya bukan bundanya. Lalu saya disuruh ngipasi. Kalau saya pergi, baru dia mencari bundanya," papar Pasha yang disambut dengan anggukan Okie. Sang istri yang tengah mengandung 2 bulan berniat anak keduanya nanti harus lebih dekat pada dirinya.

Alhasil, ketika ia dan Ungu yang akan melucurkan album ketiga berjudul Melayang ini pergi ke luar kota, Keisha akan rewel lantaran kangen. Kalau ia mulai uring-uringan dan memanggil-manggil ayahnya, Okie akan segera memperlihatkan foto-foto Pasha yang telah disiapkan dalam satu album khusus. Saking seringnya dibuka-buka si kecil, album itu kini tampak amburadul.

Pasha bahkan punya cerita unik soal kedekatannya dengan Keisha. Menjelang kelahirannya, sang ayah yang sedang kabar kalau Okie sudah mengalami pembukaan dua. Karena, ingin menyaksikan persalinan, Pasha minta Okie meletakkan ponsel di perutnya. Pasha pun lalu "ngobrol" dengan si jabang bayi dan memintanya untuk tidak keluar sampai dirinya tiba di Jakarta. Ajaib bukaan Okie tidak berlanjut dan baru 2 hari kemudian sang istri melahirkan saat ia sudah tiba di Jakarta. "Pukul 18.00 saya sampai di rumah lantas pukul 20.00 istri mulai merasakan kontraksi dan melahirkan pada malam itu juga," kenangnya.

Tidak Memanjakan

Meski hubungan mereka dekat, Pasha dan Okie tidak memanjakan Keisha. Ia percaya, anak manja akan berkembang menjadi tidak mandiri. Namun, anak yang terlalu sering dimarahi pun menurutnya tidak akan memiliki kepercayaan diri.

Pola asuh tidak memanjakan ini sudah diterapkan sejak dini. Kalau Keisha minta mainan mesti ada "prosedur" yang harus dilakukan untuk menentukan apakah dikabulkan atau tidak. Pertama-tama, cari tahu apakah mainan tersebut sudah pernah dimiliki atau belum. Kemudian, harganya berapa. Bila permintaan Keisha ditolak akan diberikan alasannya. Dengan penjelasan seperti itu, Pasha yakin, Keisha akan menghargai segala sesuatu yang didapatnya karena untuk mendapatkan sesuatu, tidaklah mudah.

Utami Sri Rahayu. Fot: Ferdi/NAKITA

March 6, 2006

Ungu Akan Rekaman di Malaysia

Filed under: News

Kapanlagi.com - Setelah meliris album ketiganya, DEMI WAKTU, pada bulan Januari lalu, nama grup band Ungu makin bersinar di kalangan pecinta musik di tanah air. Terbukti dalam album DEMI WAKTU ini, Ungu mendapat pernghargaan ‘Double Platinum’.

Bukan hanya itu, pada bulan April 2006 mendatang, grup band yang terdiri dari Pasya (vocal), Oncy (gitar), Enda (gitar), Rowman (drum) dan Makki (bas) akan rekeman di kota Malaysia. Ungu dikontrak salah satu lebel asal Malaysia untuk rekaman album ketiganya.

"Alhamdulillah, Ungu dapat banyak tawaran di album ketiga ini. April mendatang kita akan adakan rekaman album di salah satu label rekaman Malaysia, sekaligus mengadakan konser di sana," ujar Pasya, saat ditemui di studio Indosiar Sabtu (4/03).

Kata Pasya, Ungu akan berada di Malaysia selama dua pekan, setelah itu Ungu akan melanjutkan rencana tur ke seluruh wilayah Indonesia yang sempat terhenti. Kesuksesan yang diraih tidak lain karena kerja keras para personal dan juga label rekaman yang menaungi Ungu.

"Kami merasakan kesuksesan ini karena kerja keras tim dan para fans Ungu. Kami sempat terpuruk di album pertama dan kedua. Saat ini kami cukup digemari dan kesuksesan ini terus memacu Ungu untuk lebih baik lagi," ujarnya kepada Kapanlagi.com.

Selain rencana tur, Ungu juga akan mulai rekaman album keempat. Rencananya, album keempat Ungu yang keempat ini akan dirilis akhir tahun 2006. Aliran musik Ungu tetap menawarkan musik remaja dan tema sosial.

"Kami sangat berterima kasih kepada para fans, karena album ketiga Ungu bisa diterima masyarakat dan sekarang penjualannya terus meningkat. Mudah-mudahan album keempat nantinya, terus lebih baik," terangnya. (iin/bun)

March 1, 2006

Ungu Rajai Box Office Samarinda

Filed under: News

Dua Minggu Terjual 300 Copy

UNGU band, siapa yang nggak kenal mereka? Band yang digawangi lima cowok keren ini, memang sudah tak asing lagi di telinga penikmat musik Indonesia. Grup band yang lahir akibat sering ketemu ini, sudah cukup lama terjun di dunia musik. Sejak tahun 1996 hingga sekarang ini, mereka tetap betah ada di dekat musik. Setiap album yang dikeluarkan band ini, selalu laris terjual. Bahkan, untuk album terbarunya yang diberi nama (menuju) Tempat Terindah, mampu menempatkannya dalam band terlaris tahun ini.

Untuk di Samarinda sendiri, band ini mampu menjual 300 copy tiap dua Minggunya. Bisa dibayangin lakunya kaset dan VCD mereka. Bahkan lagu andalan mereka yaitu Demi Waktu, sering diminta untuk diputar dalam setiap acara di radio.

Sebagai contoh larisnya kaset Ungu ini terihat pada salah satu toko kaset di SCP. Mereka mengaku mampu menjual ratusan copy dalam seminggu. "Album Ungu ini memang sangat diminati dan lagi laris-larisnya, kami juga sudah menyiapkan stok yang lebih dari biasanya," terang salah satu karyawan. (bm-1)






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Hadley Wickham