Wawancara Khusus dengan Ungu
| Perjalanan Ungu Band, yang digawangi, Pasha (vokal), Makki (basist), Rowman (drum), Enda (gitar) dan Oncy (gitar) sudah memasuki tahun ketiga, sejak album pertama Laguku yang booming di tahun 2003, Ungu kini sudah mulai disejajarkan dengan band papan atas Indonesia lainnya. |
Apalah setelah mereka berhasil menyabet double platinum berkat album Melayang (2005) yang berhasil terjual 1.500 kopi dalam waktu satu bulan, dengan hit ‘Demi waktu’. Namun, seiring kesuksesan mereka melayang ke tempat yang terindah, Pasha dkk diterpa gosip miring tidak mampu bersaing dan berkarya dengan baik secara musikalitas. Ini disebabkan, karena warna musik rock yang mereka usung semula, berganti menjadi pop easy listening, demi untuk menembus pasar industri. Benarkah demikian? Ditemui di ajang jumpa pers mereka di Botol Musik, Quality Hotel Makassar dalam tajuk Valentine with Ungu, Selasa 14 Februari kemarin, baik Pasha maupun personel lainnya sama-sama kompak menampik hal tersebut. "Kami tidak menjual musik easy listening, kalau memang hit yang kita hadirkan selama ini nuansanya ke sana, itu hanya karena kebetulan saja pembatasannya sampai di situ. Mengenai pasar kami tidak mau munafik, kita juga pikirin, tapi tidak semua dari lagu-lagu kami mellow. Kita cukup berwarna kok dari album pertama hingga ketiga ini, karena memang kami berasal dari genre yang berbeda," papar Makki. Lebih lanjut Makki berkata, mereka tidak pernah memposisikan warna pasti dari musik mereka. "Selama ini kita main sesuai dengan selera masing-masing, saya dengan unsur jazz yang kental, Oncy dengan punknya, Pasha dengan popnya dan Edan dengan hard rocknya. Apa warna musik yang keluar saat ini adalah hasil pencampuran dari semua unsur musik tersebut, kita tidak secara sadar memposisikannya bahwa harus easy listening, mellow dan sebagainya, hanya kebutulan begitu saja terjemahannya. Kami tidak menjual musik yang sekadar easy listening," kata lelaki hitam manis tersebut. Sementara mengenai ketidakbisaan mereka berkarya dengan baik, Pasha menjawabnya dengan bijak. "Kita sendiri tidak bisa membahasakan bahwa apa yang kita lakukan selama ini adalah yang terbaik dari lainnya. Yang jelas, semua album yang kami luncurkan adalah murni dari kerja keras kami, pikiran kami, dan tenaga kami. Termasuk album ketiga ini, benar-benar kami yang memikirkannya hingga sampai terbentuk seperti ini, dengan single hit yang juga buatan asli Edan," kata lelaki yang tidak lagi membujang tersebut. Edan pun lantas mengungkapkan pembuktian akan hal itu. "Sangat bersyukur karena karya kami sendiri, sampai bulan Agustus nanti pun kami belum bisa beristirahat, ketemu dengan orang-orang terdekat dan keluarga karena berbagai tugas show yang harus kami jalani. Bahkan, boleh dikata hampir setiap hari kami harus manggung, ini aja juga begitu. Kemarin manggung di Jogja, hari ini (kemarin, red) sudah harus main lagi di Makassar, so biarkan masyarakat yang menilai saja," tuturnya. "Mau orang bilang apapun, itu urusan mereka, yang jelas kita berterima kasih masih mau diperhatikan sampai saat ini. Kita juga terima kasih pada semua fans dan media yang telah mendampingi kami, tanpa kalian kami tentunya bukan apa-apa, dan tidak akan seperti saat ini," pungkas Pasha menutup pembicaraan. |
