melayang tinggi dengan album melayang
Proses pemilihannya sangat demokratis, kami banyak berdialog dengan label dan mencoba memahami minat pasar…
Pengambilan judul Melayang untuk album Ungu, punya maksud tersendiri. Selain ingin keberadaan mereka terus melayang di tingkat atas, Ungu ingin menjelaskan satu hal. “Kami ingin masyarakat tahu, kalau lagu Melayang baru ada di album ini. Yang soundtrack Cinta SMU itu, meski ada kata-kata melayangnya, judul sebenarnya Bayang Semu,” ujar Pasha sang vokalis.

memang masih sulit mengalihkan atensi pasar musik dari lagu-lagu band laris macam Peterpan dan Radja. Tapi bukan berarti tak ada satu dua grup musik yang mampu mencuri perhatian. Ungu salah satu yang berpotensi mengikuti jejak mereka. Tembang anyar mereka, Demi Waktu yang mellow merajai tangga lagu dan ajang permintaan lagu di berbagai radio. Liukan suara Pasha, sang vokalis, seakan ingin menjelajah hati orang lewat bait-bait lirik penuh penyesalan hasil goresan gitaris mereka, Enda. //Maafkan aku/ Menduakan Cintamu/ Berat rasa hatiku/ tinggalkan dirinya/ Dan demi waktu/ Yang bergulir di sampingku/ Maafkan diriku setulus hatimu/ Seandainya kubisa memilih//.
Menanjaknya lagu tersebut, turut mendongkrak penjualan album terbaru mereka, Melayang. Album berisi 12 lagu, yang baru masuk ke toko-toko kaset 11 Desember lalu, hanya dalam 2 minggu masa edar telah terjual hingga 100 ribu keping. “Kami bersyukur lagu tersebut mendapat respon baik dari masyarakat,” ujar Rowman sang dramer. Jumlah itu terhitung luar biasa untuk Ungu. “Sebab pada album sebelumnya tak pernah mencapai titik setinggi ini, dengan waktu singkat pula,” tambah onci sang gitaris dengan nada riang.
Melayang diluncurkan setelah Ungu vakum dari dapur rekaman 1,5 tahun. “Bisa dibilang album kali ini album paling terencana yang pernah kami buat. Pendengar bisa merasakan kedewasaan bermusik kami. Materi yang ada pun lebih catchy dan nge-pop. Tapi saya jamin karakter Ungu sama sekali tidak hilang,” jelas Pasha.
Lagu yang tersaji dalam Melayang diseleksi dari 30 lagu yang ada di bank data Ungu. “Proses pemilihannya sangat demokratis, kami banyak berdialog dengan label dan mencoba memahami minat pasar,” jelas Oci. Kalau hampir 90 persen lagu bercerita tentang keuniversalan cinta, bukan karena direncanakan. “Kami membuat lagu sesuai apa yang ada di pikiran kami. Mengalir begitu saja, tanpa harus ada aturan ini itu. Prosesnya pun sama dengan lagu-lagu kami terdahulu, tiap lagu dibahas oleh semua personel,” celoteh Pasha. Mengenai dominasi lagu romantis, onci menjelaskan. “Kebanyakan terinspirasi kisah pribadi personel atau teman-teman kami. Jadi terasa lebih pribadi saja,” jelas mantan gitaris Funky Kopral ini. Boleh dibilang Ungu seperti ingin lebih mendekatkan diri dengan pendengar musik.
Kalau dibandingkan dengan album Laguku (2002) dan Tempat Terindah (2004), Melayang jelas lain. Banyak bunyi-bunyian berbeda yang diperdengarkan. “Pada album ini kami ingin meminimalkan distorsi musik. Gantinya kami banyak memainkan musik secara akustik,” bilang onci. Selain itu ada juga warna yang belum pernah muncul sebelumnya. Coba dengarkan singel Demi Waktu lekat-lekat. Nuansa romantis yang begitu kental muncul karena masuknya aransemen orkestrasi, garapan Iwan Hasan.
Untuk album ini personel Ungu berbesar hati menekan ego bermusik mereka. “Kalau dulu kami selalu mengekspresikan apa yang kami mau. Tiap orang bebas mengeluarkan segenap ide-ide kami. Kali ini setelah berembuk dengan pihak label. Kami pun sepakat untuk menahan diri. Artinya kami pun harus memerhatikan keinginan pasar, memerhatikan unsur komersial,” jelas Makki, pembetot bas Ungu. Secara umum bisa dikatakan benang merah musik Ungu pada album ini,harmonisasi genre rock dan pop. Musik rock tergambar lewat lagu-lagu macam Melayang, Berjanjilah, dan Dari Satu Hati. Sedang unsur pop terekam jelas pada lagu Tercipta Untukku, Seperti Yang Dulu, dan Sejauh Mungkin. Yang pasti lagu-lagu yang ada lebih memudahkan Ungu untuk menyapa pembeli kaset.
Perubahan lain, Ungu berani memangkas durasi lagu. Sebelum ini, lagu mereka ada yang berdurasi 6 hingga 7 menit. Kini untuk lagu Demi Waktu, mereka rela memangkasnya menjadi 3 menit 10 detik saja. Tujuannya jelas, selain untuk memanjakan kuping pendengar, juga untuk memperkuat unsur visual. “Dengan pemangkasan itu, jadi memudahkan untuk dibuat video klipnya,” jelas onci.
Semua strategi yang dibuat Ungu dikomentari sang produser, Krisna J. Sadrach, mantan personel grum musik Suckerhead. “Tugas saya sebagai produser menjadi lebih ringan, karena band yang sudah matang. Mereka adalah band yang kuat dengan unsur hiburan, dan memiliki idealisme rasional. Perubahan pada album ketiga ini tentunya memungkinkan mereka membidik pasar yang lebih luas, dan tentunya lebih berpeluang memiliki penjualan yang tinggi,” komentar Krisna.
Sudahkah kemajuan itu dirasakan para personel Ungu? “Kami merasakan intensitas pemutaran lagu Demi Waktu di radio-radio cukup tinggi. Kami akui ternyata melempar lagu mellow merupakan strategi yang tepat untuk menembus publik musik Jakarta,” ulas Makki. Untuk memperkenalkan lagu-lagu hits-nya terdahulu, Ungu harus bergerilya terlebih dulu ke daerah-daerah. Kalaupun Bayang Semu singel dari album perdana melesat naik, karena dijadikan soundtrack sinetron Cinta SMU. Di balik setumpuk pujian, selalu ada kritikan. Dan anak-anak Ungu menghadapinya dengan lapang dada. “Meskibanyak yang suka lagu romantis, ada juga penggemar lama yang protes kenapa bukan lagu up beat yang diduluin,” beri tahu Pasha. Tapi Ungu jalan terus dengan agenda yang telah disusun. “Sekarang kami sedang gencar promo album di Jakarta, baru menyusul daerah-daerah lain,” tambah Makki. Menggenapi kesuksesan mereka, pihak label segera berencana membuat video klip kedua, Seperti Yang Dulu. Lebih dari itu, Demi Waktu dan Melayang memasuki tahap negosiasi dengan sebuah rumah produksi untuk dijadikan soundtrack sinetron. Personel Ungu berharap kesuksesan ini terus berlanjut. “Intinya tiga kata kami ingin, Ungu Melayang Sejauh Mungkin,” ujar Pasha merangkai 3 buah judul lagu di album Melayang.Yang pasti jadwal manggung makin padat, dong?
