Tempat Terindah Ungu

March 7, 2006

Ungu: melayang setelah nyaris tenggelam

Filed under: News

Selain faktor musik, ada faktor lain yang berada di balik kesuksesan Ungu. “Komunikasi. Saya rasa bukan cuma di Ungu. Sukses rumah tangga, pekerjaan sangat bergantung pada komunikasi. Kalau ada masalah sebesar apa pun selalu kami obrolin. Sebab dengan begitu kami bisa lepas dari berbagai masalah,” ungkap Pasha lagi.

tak salah Ungu memberi judul album anyar mereka Melayang. Buktinya, baru sekitar dua bulan beredar –dirilis 11 Desember 2005– angka penjualan album ketiga Ungu ini langsung melayang ke angka 300 ribu keping. Bukan mustahil, angka itu nantinya makin meninggi.

Angka penjualan album terakhir ini bisa dibilang mengingkari tradisi Ungu. Penjualan dua album sebelumnya, Laguku (2002) dan Tempat Terindah (2004), mentok di angka 150 ribu keping. Toh meski berpotensi makin meningkatkan angka penjualan, Pasha (vokal), Makky (bas), Rowman (dram), Enda (gitar), dan o­nci (gitar) tak mau takabur. “Saya nggak berani buat patokan (harus terjual berapa). Saya pun tak terobsesi harus laku 2 juta kopi. Yang penting utang kami (ke perusahaan rekaman) harus dapat platinum sudah terbayar. Kan lucu kalau dulu dapat 150 ribu sekarang cuma 75 ribu,” ujar Pasha yang gemar mengendarai motor besar ini.

Apa sebenarnya kunci sukses Ungu? Jawabannya, kedewasaan bermusik. “Dulu ketika pertamakali rekaman musik Ungu over skill di beberapa hal. Ya, over play, over sing atau over arrange. Ini kesalahan yang sebenarnya banyak dilakukan musisi yang pertamakali rekaman serius, ya termasuk kami. Album kedua juga masih begitu. Namun kami sedikit mengerti apa yang orang mau,” jelas Makky. Nah di album ketiga Ungu berusaha tak mengulangi kesalahan ini. “Di album ini kami lebih sedikit wise. Kami fokus ke lagu. Aransemennya dibuat ngepas supaya orang bisa fokus ke lagunya,” tandasnya.

Makky benar. Album ini memang tak serumit dua album sebelumnya. Malah bisa dibilang lebih ringan dan akrab di kuping. Tengok saja singel Demi Waktu. Tembang itu lebih ngepop dan mellow. Sebelumnya, tak ada tembang Ungu yang seperti ini. Tembang ini yang berjasa mengantarkan Ungu ke tangga sukses. Tembang yang dibesut Enda ini sebenarnya sudah cukup lama ada di list lagu Ungu. Cuma lagu itu baru dikeluarkan di album Melayang. “Biasanya, kami bikin lagu yang jingkrak-jingkrak. Namun tiba-tiba ada lagu melankolis. Dari segi panggung sebenarnya saya malas bawain Demi Waktu. Tapi sekarang justru saya semangat banget bawain-nya. Lagu ini menjadi sejarah buat Ungu, di saat kami lagi terpuruk. Lagu itu membuat kami sukses. Penggemar selalu meminta lagu itu saat konser,” ujar Pasha. Selain faktor musik, ada faktor lain yang berada di balik kesuksesan Ungu. “Komunikasi. Saya rasa bukan cuma di Ungu. Sukses rumah tangga, pekerjaan sangat bergantung pada komunikasi. Kalau ada masalah sebesar apa pun selalu kami obrolin. Sebab dengan begitu kami bisa lepas dari berbagai masalah,” ungkap Pasha lagi.

Sukses Melayang membuat Ungu dibanjiri tawaran manggung, termasuk di dua daerah yang sebelumnya dianggap angker buat mereka, Jakarta dan Bandung. “Dulu saya nggak pede kalau manggung di Jakarta. Di Bandung, Ungu hampir nggak pernah manggung di sana. Kalau pun manggung nggak banyak yang nonton. Ya, mungkin dulu musik kami belum diterima di sana. Namun sekarang responsnya tuh heboh banget. Kalau manggung di dua kota itu pasti ramai. Bahkan laporan dari recording company, penjualan terbanyak album kami di dua daerah itu,” celoteh Pasha.

Rowman lalu memberi contoh. Beberapa waktu lalu mereka tampil di sebuah mal di kawasan Jakarta Timur. Saking padatnya penonton, dari 5 lagu yang direncanakan bakal dibawakan, cuma 3 lagu yang berhasil mereka tuntaskan. “Penontonnya padat sekali. Daripada terjadi sesuatu yang nggak diharapkan, kami putuskan cuma mainkan 3 lagu saja,” sahut Rowman yang sepintas mirip Bimbim, dramer Slank.

Masih soal manggung, intensitas Ungu belakangan memang makin padat. Dalam seminggu mereka bisa manggung lebih dari 4 kali. Bahkan tak jarang mereka manggung 2 kali dalam satu hari. “Tapi kami berusaha membuat waktu 1-2 hari untuk istirahat. Jangan setiap hari manggung. Kejar setoran boleh tapi harus tetap beristirahat,” tutur Pasha lagi. Buntut jadwal manggung yang padat, waktu mereka habis di jalan buat tur.

Konsekuensi jadwal manggung yang padat, mereka harus rela sering berpisah dengan keluarga. Asal tahu saja. Kecuali o­nci, semua personel Ungu sudah menikah. Pasha, Rowman, dan Makky bahkan sudah punya anak. Sedangkan Enda tengah menanti kelahiran anaknya. “Untuk mengobati rindu itu paling telepon-teleponan saja. Pokoknya harus ada komunikasi,” ujar Rowman. Makky punya cerita lucu. Gara-gara ia pergi terlalu lama, anaknya bahkan tak mengenalinya lagi. “Suatu kali sehabis pulang tur saya mendapati anak saya memegang majalah yang cover-nya ada saya. Kehadiran saya sama sekali nggak digubrisnya. Dia malah menciumi majalah itu. Sedangkan yang aslinya nggak diapa-apain,” terang Makky sambil tertawa.

Sukses yang kini diraih pastinya sangat disyukuri personel Ungu “Kami mensyukuri kemajuan yang dialami Ungu. Cuma belum bisalah dibandingkan dengan band-band besar yang sudah (menjual) 2-3 juta kopi. Ungu baru 300 ribu kopi, tapi itu sebuah prestasi untuk kami. Yang jelas, ini bukan titik akhir, malah jadi semangat baru untuk kami,” tandas Pasha lagi. Toh sukses itu, kata Makky, ibarat pedang bermata dua. Bukan tak mungkin kesuksesan ini malah jadi bumerang. “Okelah kami sekarang sudah mapan.Kami punya nama yang lumayan, penghasilan yang lumayan, dan sudah punya posisi di industri (musik), namun pertanyaannya masih nggak kami bisa akur setelah itu? Ya, saya cuma bisa berharap kami bertahan terus,” tambahnya Makky. Sukses itu juga mendatangkan beban. “Ke depannya kami juga harus bisa lebih baik dari sekarang. Dan itu tentu bukan hal mudah,” katanya lagi.

Butuh 10 tahun buat Ungu untuk sukses. Band yang berdiri pada 1996 ini berakar dari gerombolan anak muda yang iseng-iseng berkumpul di sebuah studio di bilangan Tebet. Masing-masing sebenarnya punya band, tapi karena sering ketemu, jadilah mereka nge-jam bareng. Belakangan acara nge-jam ini tak cuma di studio saja, tapi merembet ke panggung-panggung 17 Agustus-an dan pensi-pensi sekolah di seputaran Tebet. Agar punya nama panggung, dipilihlah nama Ungu, karena sederhana dan mudah diingat. Belakangan personel awal Ungu berguguran karena berbagai alasan. Ada yang dibajak band lain, ada pula yang lebih mementingkan kuliah ketimbang bermusik. Proses gonta ganti personel ini sangat sering dan berjalancukup lama. Kalau dihitung bisa sekitar sembilan kali gonta-ganti. Satu-satunya personel awal Ungu yang sampai sekarang bertahan adalah Makky.

Pada 1999, Ungu punya vokalis baru, Pasha. Pasha mengawali kariernya sebagai model dan telah muncul di beberapa iklan televisi, sinetron, plus bergabung dengan beberapa band sebelum Ungu. Sejak awal manggung, Ungu membawakan lagu-lagu ciptaan sendiri. Beberapa orang terdekat mereka menyarankan agar mencoba menawarkan lagu-lagu mereka ke perusahaan rekaman. Siapa tahu ada yang mengajak membuat album. Pada 2000, bersama Lakuna, Borneo, Piknik, dan Energy, Ungu diminta mengisi album kompilasi buatan Warner Music Indonesia, bertajuk Klik. Ungu menyumbangkan dua lagu, Hasrat dan Bunga. Sekadar informasi, saat album kompilasi ini dibuat, para personel Ungu belum seperti komposisi saat ini. Setahun berselang 2001, Ungu merekrut Enda. Ia awalnya teknisi gitar untuk band ini. Ketika kebutuhan akan gitaris kedua muncul, Enda membuktikan ia orang yang tepat untuk mengisi posisi itu. Di tahun yang sama masuk pula Rowman yang mantan dramer grup musik rock Garux, yang sempat meramaikan dunia musik Indonesia.

Punya dua lagu dalam album kompilasi jadi pemicu buat Ungu membuat lagu lebih banyak lagi. Dengan harapan kelak bisa membuat album utuh. Setelah menawari lagu-lagu itu ke berbagai label, mereka bertemu sekelompok orang yang menyebut diri BAR & Co. BAR & Co. tertarik pada materi lagu Ungu dan bersedia memproduseri album perdana mereka. Setelah proses panjang dalam rekaman, lagi-lagi Ungu kehilangan personel. Tapi tidak menghambat perilisan album pertama mereka pada 6 Juli 2002, dengan judul Laguku. Album ini mengemas 12 lagu yang bervariasi. Ungu dibantu Sawung Jabo dalam aransemen, sementara string section yang digarap Banyu Mili yang asal Yogyakarta. Bermodalkan single pertama Bayang Semu yang juga jadi soundtrack sinetron ABG, Ungu menyambangi berbagai kota di Indonesia mengadakan pertunjukan.

Tur keliling Indonesia itu mereka nikmati, sampai tak terasa sudah dikejar deadline album kedua. Sambil tur, entah di bus, pesawat, maupun kapal ferry, personel Ungu menyempatkan diri membuat lagu. Kalau proses rekaman album pertama cukup panjang, maka proses rekaman album kedua sangat singkat, cuma tiga minggu. Album kedua yang berisi 12 lagu ini diberi judul Tempat Terindah. Oh, ya, di album kedua ini masuk o­nci, mantan gitaris band Funky Kopral.

Toh walau sudah punya dua album, Ungu belum bisa digolongkan band populer. Sulitnya mengejar kesuksesan ini sempat bikin frustrasi para awak band. “Kalau bicara individu, mungkin kami semua sudah capek. Saya juga mengalami itu. Apalagi dengan problem intern yang lebih gila. Dulu tuh kami sering berantem juga lho. Bahkan sampai ada kubu-kubuan segala. Saya bahkan pernah curhat pada teman-teman kalau saya nggak kepengin ikut lagi band ini,” cerita Pasha. Band ini sempat vakum bikin album. Mereka cuma ikut proyek album Senyawa bersama Chrisye dan Tribute to Titiek Puspa. Bahkan sampai album ketiga, Ungu pun sebenarnya tak terlalu optimistis. “Ini album yang ketiga lho, kasarnya kalau sampai nggak laku juga, ya mendingan tahu diri deh. Jangan maksain. Lebih baik cari kerjaan lain. Kalau tak berhasil lagi mungkin saya akan bilang ke anak-anak, rezeki kita mungkin bukan di sini,” serunya. Tapi toh nasib kemudian berkata lain. Melalui album anyar mereka, Ungu akhirnya merengkuh sukses. *bin

Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://unguband.blogsome.com/2006/03/07/ungu-melayang-setelah-nyaris-tenggelam/trackback/

No comments yet.

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>























Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Hadley Wickham