Terompet Serbuan Berbunyi Sudah!
Sembilan artis papan atas Indonesia tampil sepanggung. Bukan, bukan, ini tidak terjadi di Jakarta, tapi di Kuala Lumpur, Malaysia. Fuih! Ini sih bukan semata cari uang. Indonesian Invasion telah dimulai!
Berturut-turut, Dewa, Padi, Element, hingga yang terakhir—dan paling dahsyat—Peterpan, semua pernah singgah di sana. Belum lagi artis-artis solo macam KD, Audy, atau Rossa. Lalu Ratu, yang melejit di negeri sendiri dengan Teman Tapi Mesra, juga ikutan meraih simpati encik dan puan di negeri jiran.
Berdasarkan data tersebut, Fat Boys Records, sebuah label indie di Kuala Lumpur, berinisiatif menggelar konser musik yang seluruh headliners-nya adalah artis Indonesia. Enggak tanggung-tanggung. Konsert—begitu mereka menyebutnya—menghadirkan sembilan artis sekaligus. Mulai dari ADA Band, Ungu, Cokelat, Padi, GIGI, hingga Dewa 19, Ratu, Ari Lasso, dan Audy. Nah!
Sudah begitu, venue-nya pun enggak main-main. Stadium Merdeka yang dipilih. Asal tahu nih, stadion satu ini buat Malaysia tuh setara dengan Stadion Utama Senayan. Malah, stadion ini punya arti sejarah yang cukup tinggi. Soalnya di sanalah bangsa Malaysia memproklamasikan kemerdekaannya 39 tahun lalu. Merinding kan?
Ramalan organizer tak meleset, antusiasme Malaysia terhadap “serbuan” ini cukup tinggi, terutama menjelang hari pergelaran, Sabtu 15 April lalu. Menurut penyelenggara, sampai H-1 tiket yang terjual sekitar sepuluh ribu lembar. Enggak sedikit pula fans dari luar Kuala Lumpur yang bela-belain datang hanya untuk menonton konser yang terbilang cukup bersejarah ini.
Sukses perdana Ungu
ADA Band menjadi penampil perdana. Dijadwalkan pukul 15.00 waktu setempat, Donnie cs baru naik panggung sekitar sejam kemudian (Ha! Masih mengenal jam karet juga rupanya orang Malaysia!). Ough! dibeset jadi lagu pertama. Lima belas ribu penonton yang memadati stadion langsung asyik bernyanyi bersama.
Hebat juga. Soalnya dibanding band lain yang tampil hari itu, ADA Band tergolong band Indonesia yang jarang berpromo di Malaysia. Album mereka pun baru satu yang dirilis di sana. Tapi, ternyata banyak dari penonton yang sudah fasih dengan deretan lagu mereka. Tempo medium dan slow yang mendominasi repertoar ADA Band rupanya cukup ampuh untuk menaklukkan hati orang Malaysia. Itu terlihat ketika kuartet yang sore itu dibantu Rere di balik drum ini mengakhiri set mereka. Teriakan minta tambah gencar banget dikumandangkan. Dan Donnie langsung aja jadi idola cewek-cewek Malaysia!
Sambutan kepada Ungu juga enggak jauh beda dengan ADA Band. Biarpun sore itu merupakan penampilan perdana mereka di Malaysia, Pasha cs enggak gentar. Sebaliknya, bermodal deretan lagu kayak Karena Dia Kamu, Melayang, Bayang Semu, dan tentu saja, Demi Waktu, mereka sukses menangguk simpati.
Adalah kemampuan Pasha berkomunikasi sama penonton yang patut dipuji. Makin jago saja nih orang berorasi sembari mengambil hati. Dengan kemampuan kayak begitu, enggak heran jadinya kalau penonton yang tadinya enggak terlalu kenal sama Ungu jadi lebih familiar.
Sebagai band yang sering diekspos dan sudah punya fan-base sendiri di Malaysia, tugas Cokelat hari itu sebenarnya relatif mudah dibanding ADA Band dan Ungu. Satu-satunya kendala yang kudu dihadapi Kikan cs enggak lain adalah kualitas sound alias tata suara.
Padi vs hujan
Entah kenapa, walau sudah ditangani oleh salah satu provider tata suara yang katanya tercanggih di Asia Tenggara, kualitas yang didapat para penampil enggak prima. Hal itu sudah terasa sejak sound check sehari sebelumnya. Nyaris semua penampil komplain terhadap sistem monitor plus pembagian kanal. Belum lagi bunyi yang dihasilkan PA.
Saat Cokelat naik panggung, ketakutan itu terbukti. Suara gitar Ernest timbul tenggelam sepanjang set. Sebal? Sudah pasti. Toh, show must go on. Dan dibantu sama deretan hits yang cukup dikenal, kayak Luka Lama, Pergi, Karma, dan Segitiga, kuintet ini cukup sukses membuai kuping penonton. Uh, lega.
Tragedi juga sempat dialami Padi. Kali ini bukan lantaran sound panggung, melainkan hujan. Ditingkah angin yang kencang bertiup ke arah panggung, hujan yang turun begitu deras persis saat Fadly berduet dengan Rossa membawakan Kasih Tak Sampai. Panitia pun terpaksa menyetop sementara konser yang sedang berlangsung. Ini sungguh enggak enak karena suasana yang sudah dibangun jadi hilang.
Tapi tunggu…. Penonton bergeming. Edan. Hal ini membuat arek-arek Padi kembali semangat. Saat kondisi dirasa sudah lebih memungkinkan, mereka kembali menggebrak. Hitam, Menanti Sebuah Jawaban, hingga Sobat tuntas mereka bawain dengan intensitas yang sama seperti sebelum hujan menghentikan aksi mereka. Salut!
Dipanaskan oleh Padi, penonton yang jumlahnya saat itu sudah sekitar 30.000 kepala mulai menggila lagi saat GIGI muncul. Bukan tanpa alasan tentunya. Selain bermodal lagu-lagu yang sudah akrab di kuping, aksi panggung kuartet ini memang enggak ada matinya.
Belum ada deh yang bisa ngegantiin Armand sebagai frontman nomor satu Indonesia. Dibeking oleh personel yang emang piawai, jadilah GIGI sebagai salah satu band yang cukup komplet. Sekitar satu jam durasi mereka ngocol di panggung. Selama satu jam itu pula penonton Malaysia seakan “diajari” bermain band yang baik dan benar oleh GIGI. Asoy!
Tiga bonus Dewa
Sekitar pukul sepuluh malam, giliran Dewa 19 yang naik panggung. Hmm. Sama seperti GIGI, kebesaran band ini di Malaysia sudah enggak perlu diragukan. Kalangan musisi lokal sampe awam rata-rata kenal dan suka sama Dewa. Enggak heran kalau album terbaru mereka Republik Cinta baru-baru ini diganjar plakat platinum. Satu hal yang belum tentu mampu diraih oleh artis Malaysia.
Malam itu ada tiga bonus yang diberikan Dewa 19 buat Malaysia. Bonus pertama adalah Audy, yang menyanyikan Satu Hati dan Kangen. Lalu diikuti penampilan Ari Lasso yang ngebeset Elang. Bonus terakhir adalah Ratu, yang cuek saja bergoyang sexy ngebawain Aku Baik-Baik Saja dan Teman Tapi Mesra diiringi oleh Ahmad Dhani cs.
Sementara Dewa sendiri berjaya banget dengan deretan hit mereka kayak Laskar Cinta, Pupus, atau Separuh Nafas. Nyaris dua jam set mereka berlangsung. Tapi enggak ada tuh penonton yang surut. Kecapaian, pasti. Tapi mundur? No way!
Teng pukul 12 malam, Dewa pun memungkas konser bertajuk Konsert Pesta Malam Indonesia ini. Puas? Belum ah. Jadi pengin melihat kelanjutan dari serbuan 15 April ini. Ayo, ayo, siapa menyusul.
DANIE SATRIO Tim MUDA
Design By KCM
Copyright © 2002 Harian KOMPAS