Tempat Terindah Ungu

April 30, 2006

Sedap Melayang bersama UNGU

Filed under: Resensi, Melayang

WALAUPUN mula mendapat bantahan daripada sege lintir artis tempatan, album seberang terus dipasarkan di negara ini. Terbaru, Ungu pula mempertaruhkan album Melayang dengan mempertaruhkan lagu pada Trek 3, Demi Waktu sebagai tunjang utama.

Rasanya tidak perlu saya jelaskan panjang lebar kerana lagu ini cukup meluas siarannya di stesen radio tempatan pada waktu terdekat ini.

Keha diran mereka ke KL, baru-baru ini membuat persembahan juga saya lihat mendapat sambutan di luar jangkaan.

Dari Dewa, Padi, Coklat, Peterpan, Radja, Garasi semuanya mempertahankan cara dan gaya muzik masing-masing. Begitu juga dengan Ungu yang cukup selesa dengan muzik rock selamba.

Saya tak nafikan lagu seperti Melayang, Seperti Yang Dulu, Berikan Aku Cinta dan Sejauh Mungkin, terhibur rasanya hati ini. Cuma semakin lama saya hayati alunan muzik Ungu, semakin saya sedari bahawa yang muzik mereka kedengaran macam sama saja dengan yang kumpulan Indon lain.

Malah suara Pasha, vokal utama Ungu persis vokalis kumpulan Peterpan Ariel pada bahagian tertentu.

Hakikatnya, saya tidak menidakkan hakikat bahawa trek seperti Demi Waktu, Berjanjilah, Tercipta Untukku dan Aku Bukan Pilihan Hatimu, seronok diputarkan

Radja-Ungu ‘Hipnotis’ Penggemarnya

Filed under: Konser

BERBULAN-BULAN tidak menyaksikan konser grub band favorit membuat kawula muda Kota Parepare dan sekitarnya seperti kehausan.

Malam tadi, lewat Konser Love ‘N’ Rock, dahaga itu akhirnya terpuaskan lewat aksi panggung memukau dua grup band yang lagi digandrugi remaja, Radja dan Ungu.

Bahkan, sejak pukul 19.30, Lapangan Andi Makkasau sudah menjadi lautan manusia. Di dalam lapangan yang dipagari dengan seng, ribuan remaja berdiri berdesak-desakan. Seolah tak ada lagi ruang kosong. Sementara di luar lapangan, ribuan anak muda lainnya terpaksa bersabar antre di dua pintu masuk.

Sekitar pukul 19.30 wita, saat grup band Ungu mulai muncul di panggung dan membawakan lagu-lagu andalannya, Melayang, Demi Waktu, Berikan Aku Cinta, Berjanjilah, Dari Satu Hati, Aku Bukan Pilihan Hatimu, Tak Perlu, Tercipta Untukmu, Ciuman Pertama, Sejauh Mungkin dan Seperti Yang Dulu, Lapangan Andi Makkasau seolah akan ‘runtuh’. Para kawula muda yang memang haus hiburan itu seperti tak pernah ingin berhenti berjingkrak-jingkrak dan menyebut satu persatu nama personel kesayangannya.

Sapaan Pasha sang vokalis dengan logat Makassarnya, serta aksi panggung Enda (gitar), Onci (gitar), Makki (bass) dan Rowman (drum) membuat penonton seperti tak mau berhenti bergerak dan tak ingin beranjak dari tempatnya berdiri.

Grup band bentukan 1996 itu seperti menghipnotis anak muda untuk ikut bernyanyi, melantunkan tembang-tembang yang bernarasi tentang cinta dan kehidupan.

Bahkan sesekali Pasha harus meminta kepada petugas pemadam untuk menyiramkan air ke tengah-tengah penonton yang kepanasan dan terkadang saling lempar botol air mineral.

Meski sempat terlihat kecewa dan tak sabar setelah Ungu menuntaskan 11 lagu andalannya, penonton yang terus berdesakan sampai di bibir panggung kembali bersorak saat Radja muncul di dan menyapa penggemarnya. Dengan lagu bertitel Cinderella, Ian Kasela (Vokal), Moldy (Gitaris ), Seno (Drummer), serta Indra Riwayat (Bassis ) mengawali aksinya di atas panggung. Selain lagu-lagu lama seperti; Aku Ada Karena Kau Ada, Manusia Biasa, Jujur, dan Tulus, Radja juga membawakan lagu dari album terbarunya, seperti Angin.

Saat paroh penampilan Radja yang dihiasi dengan lemparan botol air mineral dan aksi nekat penonton yang naik panggung, satu persatu remaja putri dan anak-anak ABG terpaksa harus digotong keluar dari arena konser karena terjatuh dan pingsan. Penonton yang terus merapat ke bibir panggung dan saling dorong membuat sang vokalis Ian Kasela beberapa kali harus menenangkan fansnya. Hingga lagu pamungkas Radja, tercatat puluhan penonton harus mendapatkan perawatan medis di lapangan dan sebagian lainnya terpaksa harus dirujuk ke rumah sakit.(*)

April 28, 2006

Ungu by Request

Filed under: TV

SEPERTI makna warna yang digunakannya sebagai nama, Ungu pun mewakili rasa romantis nan manis. Grup yang identik dengan lagu remaja ini memang menawarkan tema-tema cinta dalam balutan musik minimalisnya. Dengan modal ini, UnguUngu mampu mencuri perhatian di antara ramainya panggung musik lokal. Kenyataan tersebut pun kian mengibarkan Ungu ke puncak popularitas.

Untuk memenuhi kerinduan para penggemar fanatik Ungu, SCTV menayangkan sebuah sajian istimewa bertajuk "Ungu by Request". Penampilan grup yang dibentuk tahun 1996 ini akan dikemas sedikit berbeda. Ungu yang hadir di studio SCTV, akan berdialog langsung dengan pemirsa, mengajak bernyanyi, dan melayani setiap permintaan lagu.

Pasti seru, karena selain mendengarkan lagu-lagu hits Ungu, para fansnya juga akan mengetahui kisah sukses perjalanan karier sang superstar, berikut liku-likunya. Jangan lewatkan penampilan mereka hanya di SCTV Satu untuk Semua.

Ikuti pula kuisnya. Cara mudah: Ketik REQ [spasi] no urut lagu [spasi] komentar/pertanyaan. Kirim SMS ke: 7288, dan raih hadiah Rp 3 juta untuk tiga orang pemenang.

Urutan lagu: 1. Bayang Semu, 2. Berikan Aku Cinta, 3. Berjanjilah, 4. Ciuman Pertama, 5. Demi Waktu, 6. Karena Dia Kamu, 7. Laguku, 8. Suara Hati, 9. Seperti yang Dulu, 10. Tak Perlu, 11. Tempat Terindah, 12. Tercipta Untukmu

Rebut pula hadiah lima handphone Nokia untuk lima orang pemenang, dengan menjawab pertanyaan ini: Siapakah bintang video klip dalam lagu bertajuk Seperti yang Dulu?
A. Riyanti B. Tyas C. Kedua-duanya Benar. Kirim jawaban Anda ke 7288 dengan mengetik BR [spasi] A/B/C, dan menangkan hadiahnya!

(DEE-240406)

Konser Ungu Meriah

Filed under: News

GRESIK - Penonton konser Ungu di Stadion Semen Gresik, Rabu malam, membeludak. Stadion sepak bola di Jl RA Kartini nyaris tidak bisa menampung penonton yang sebagian besar ABG. Sambutan meriah warga Kota Industri membuat Pasha alias Sigit Purnomo SS (vokalis) terharu.

"Aku nggak nyangka sambutan warga Gresik begitu luar biasa. Ini konser Ungu yang terbanyak didatangi penonton," puji Pasha yang disambut tepuk tangan penonton. "Empat bulan lalu, Ungu ke Gresik tapi tidak seramai sekarang," tambah pria kelahiran Donggala, 27 November 1979 ini.

Sedikitnya, 12 lagu dibawakan grup band ini. Di antaranya, Curhat, Seperti Daku, Jumpa Pertama, Ciuman Pertama, Tempat Terindah, Sejauh Mungkin, dan Demi Waktu. Konser ditutup dengan hit mereka yang cukup familiar di telinga ABG, Melayang.

Histeria penonton mencapai puncak ketika Pasha melepas hem biru yang dipakainya. Dia lantas melemparkan hem itu ke arah penonton. Sempat timbul aksi dorong, sehingga seorang penonton pingsan.

Personel grup band Ungu, yakni Pasha alias Sigit Purnomo SS (vokalis), Makki alias Makki O. Parikesit (bassis), Enda’ alias Franco Medjaya (gitaris), Onci atau Arlonsy Miraldi (gitaris), dan Rowman alias M. Nur Rohman (drummer), bermain total malam itu. Mereka memuji ketertiban penonton hingga konser yang bertajuk LA Concert Ungu itu berakhir pukul 22.00. (yad)

April 26, 2006

‘Invasi’ Indonesia ke Malaysia

Filed under: News

Indonesia dan Malaysia adalah dua negara serumpun dan bertetangga. Selama ini hubungan keduanya boleh dikatakan baik-baik saja. Namun, jika kita tengok lebih jauh, hubungan Indonesia-Malaysia sering kali naik-turun. Dulu, Bung Karno pernah bertekad untuk "mengganyang" Malaysia. Lalu ketegangan kembali terjadi antara keduanya saat isu Sipadan-Ligitan dan Ambalat muncul. Selain itu, isu tenaga kerja Indonesia kerap menaikkan tensi kedua belah pihak.

Di tengah mulai hangatnya hubungan Jakarta-Kuala Lumpur, Indonesia baru saja "menginvasi" Malaysia. Kali ini bukan invasi seperti yang dibayangkan Bung Karno, tapi invasi dalam musik. Pada 15 April lalu, selama 8 jam, artis dan musisi Indonesia membombardir Stadion Merdeka di Kuala Lumpur dengan dentuman drum, lengkingan gitar yel-yel khas Indonesia. Pelakunya artis papan atas Indonesia, mulai Padi sampai Dewa 19. Stadion Merdeka di Kuala Lumpur ibarat Senayan di Jakarta yang menjadi ikon nasional Malaysia. Tak banyak artis luar negeri yang bisa membius "keangkuhan" stadion ini. Dari sedikit artis asing itu, Indonesia mendapat tempat tersendiri. Pada acara bertajuk "Pesta Malam Indonesia" itu, tak kurang dari 30 ribu kawula muda Malaysia tumpah-ruah mengikuti irama yang dimainkan grup band Indonesia. Bahkan beberapa waktu lalu, Peterpan, band yang paling digemari di Malaysia dan Indonesia saat ini, juga melakukan konser solo yang mampu menyedot puluhan ribu penonton.

Perihal invasi musik Indonesia ke Malaysia bukan hanya terjadi baru-baru ini. Jauh sebelumnya, band-band Indonesia memang sudah menancapkan hegemoninya di negeri jiran. Begitu dinamisnya aliran yang dimainkan band-band Tanah Air membuat pencinta musik Malaysia tergila-gila. Band Malaysia sendiri tak banyak melakukan perubahan sehingga terkesan monoton. Namun, tak semua publik Malaysia senang dengan serbuan musisi Indonesia. Sebagian mereka sedikit terganggu karena musisi Malaysia justru makin tenggelam. Salah seorang warga Malaysia menuliskan keprihatinannya atas derasnya invasi musik Indonesia. "Apa kelebihan mereka sehingga diberi peluang untuk mengadakan persembahan selama lapan jam di negara kita? Adakah kita tidak mempunyai artis kita sendiri yang mampu memberikan persembahan untuk memberi hiburan kepada rakyat Malaysia. Tidak cukupkah lagi dengan konser Peterpan pada 1 Januari 2006?"

Bagi pemerintah, khususnya Presiden Yudhoyono, potensi bangsa Indonesia yang demikian besar harus dimaksimalkan sebagai amunisi guna meningkatkan kekuatan diplomasi. Diplomasi politik yang kaku sering kali tak membawa hasil. Dibutuhkan berbagai pendekatan lain. Musik adalah bahasa universal selain olahraga. Apalagi Yudhoyono dikenal sebagai pemimpin Asia yang lebih suka menggunakan soft power dalam diplomasi. Semoga ketegangan Indonesia-Malaysia tidak bertambah tegang dengan invasi di atas.

April 23, 2006

Konser Pesta Malam Indonesia

Filed under: Konser


Terompet Serbuan Berbunyi Sudah!

Sembilan artis papan atas Indonesia tampil sepanggung. Bukan, bukan, ini tidak terjadi di Jakarta, tapi di Kuala Lumpur, Malaysia. Fuih! Ini sih bukan semata cari uang. Indonesian Invasion telah dimulai!

Berturut-turut, Dewa, Padi, Element, hingga yang terakhir—dan paling dahsyat—Peterpan, semua pernah singgah di sana. Belum lagi artis-artis solo macam KD, Audy, atau Rossa. Lalu Ratu, yang melejit di negeri sendiri dengan Teman Tapi Mesra, juga ikutan meraih simpati encik dan puan di negeri jiran.

Berdasarkan data tersebut, Fat Boys Records, sebuah label indie di Kuala Lumpur, berinisiatif menggelar konser musik yang seluruh headliners-nya adalah artis Indonesia. Enggak tanggung-tanggung. Konsert—begitu mereka menyebutnya—menghadirkan sembilan artis sekaligus. Mulai dari ADA Band, Ungu, Cokelat, Padi, GIGI, hingga Dewa 19, Ratu, Ari Lasso, dan Audy. Nah!

Sudah begitu, venue-nya pun enggak main-main. Stadium Merdeka yang dipilih. Asal tahu nih, stadion satu ini buat Malaysia tuh setara dengan Stadion Utama Senayan. Malah, stadion ini punya arti sejarah yang cukup tinggi. Soalnya di sanalah bangsa Malaysia memproklamasikan kemerdekaannya 39 tahun lalu. Merinding kan?

Ramalan organizer tak meleset, antusiasme Malaysia terhadap “serbuan” ini cukup tinggi, terutama menjelang hari pergelaran, Sabtu 15 April lalu. Menurut penyelenggara, sampai H-1 tiket yang terjual sekitar sepuluh ribu lembar. Enggak sedikit pula fans dari luar Kuala Lumpur yang bela-belain datang hanya untuk menonton konser yang terbilang cukup bersejarah ini.

Sukses perdana Ungu

ADA Band menjadi penampil perdana. Dijadwalkan pukul 15.00 waktu setempat, Donnie cs baru naik panggung sekitar sejam kemudian (Ha! Masih mengenal jam karet juga rupanya orang Malaysia!). Ough! dibeset jadi lagu pertama. Lima belas ribu penonton yang memadati stadion langsung asyik bernyanyi bersama.

Hebat juga. Soalnya dibanding band lain yang tampil hari itu, ADA Band tergolong band Indonesia yang jarang berpromo di Malaysia. Album mereka pun baru satu yang dirilis di sana. Tapi, ternyata banyak dari penonton yang sudah fasih dengan deretan lagu mereka. Tempo medium dan slow yang mendominasi repertoar ADA Band rupanya cukup ampuh untuk menaklukkan hati orang Malaysia. Itu terlihat ketika kuartet yang sore itu dibantu Rere di balik drum ini mengakhiri set mereka. Teriakan minta tambah gencar banget dikumandangkan. Dan Donnie langsung aja jadi idola cewek-cewek Malaysia!

Sambutan kepada Ungu juga enggak jauh beda dengan ADA Band. Biarpun sore itu merupakan penampilan perdana mereka di Malaysia, Pasha cs enggak gentar. Sebaliknya, bermodal deretan lagu kayak Karena Dia Kamu, Melayang, Bayang Semu, dan tentu saja, Demi Waktu, mereka sukses menangguk simpati.

Adalah kemampuan Pasha berkomunikasi sama penonton yang patut dipuji. Makin jago saja nih orang berorasi sembari mengambil hati. Dengan kemampuan kayak begitu, enggak heran jadinya kalau penonton yang tadinya enggak terlalu kenal sama Ungu jadi lebih familiar.

Sebagai band yang sering diekspos dan sudah punya fan-base sendiri di Malaysia, tugas Cokelat hari itu sebenarnya relatif mudah dibanding ADA Band dan Ungu. Satu-satunya kendala yang kudu dihadapi Kikan cs enggak lain adalah kualitas sound alias tata suara.

Padi vs hujan

Entah kenapa, walau sudah ditangani oleh salah satu provider tata suara yang katanya tercanggih di Asia Tenggara, kualitas yang didapat para penampil enggak prima. Hal itu sudah terasa sejak sound check sehari sebelumnya. Nyaris semua penampil komplain terhadap sistem monitor plus pembagian kanal. Belum lagi bunyi yang dihasilkan PA.

Saat Cokelat naik panggung, ketakutan itu terbukti. Suara gitar Ernest timbul tenggelam sepanjang set. Sebal? Sudah pasti. Toh, show must go on. Dan dibantu sama deretan hits yang cukup dikenal, kayak Luka Lama, Pergi, Karma, dan Segitiga, kuintet ini cukup sukses membuai kuping penonton. Uh, lega.

Tragedi juga sempat dialami Padi. Kali ini bukan lantaran sound panggung, melainkan hujan. Ditingkah angin yang kencang bertiup ke arah panggung, hujan yang turun begitu deras persis saat Fadly berduet dengan Rossa membawakan Kasih Tak Sampai. Panitia pun terpaksa menyetop sementara konser yang sedang berlangsung. Ini sungguh enggak enak karena suasana yang sudah dibangun jadi hilang.

Tapi tunggu…. Penonton bergeming. Edan. Hal ini membuat arek-arek Padi kembali semangat. Saat kondisi dirasa sudah lebih memungkinkan, mereka kembali menggebrak. Hitam, Menanti Sebuah Jawaban, hingga Sobat tuntas mereka bawain dengan intensitas yang sama seperti sebelum hujan menghentikan aksi mereka. Salut!

Dipanaskan oleh Padi, penonton yang jumlahnya saat itu sudah sekitar 30.000 kepala mulai menggila lagi saat GIGI muncul. Bukan tanpa alasan tentunya. Selain bermodal lagu-lagu yang sudah akrab di kuping, aksi panggung kuartet ini memang enggak ada matinya.

Belum ada deh yang bisa ngegantiin Armand sebagai frontman nomor satu Indonesia. Dibeking oleh personel yang emang piawai, jadilah GIGI sebagai salah satu band yang cukup komplet. Sekitar satu jam durasi mereka ngocol di panggung. Selama satu jam itu pula penonton Malaysia seakan “diajari” bermain band yang baik dan benar oleh GIGI. Asoy!

Tiga bonus Dewa

Sekitar pukul sepuluh malam, giliran Dewa 19 yang naik panggung. Hmm. Sama seperti GIGI, kebesaran band ini di Malaysia sudah enggak perlu diragukan. Kalangan musisi lokal sampe awam rata-rata kenal dan suka sama Dewa. Enggak heran kalau album terbaru mereka Republik Cinta baru-baru ini diganjar plakat platinum. Satu hal yang belum tentu mampu diraih oleh artis Malaysia.

Malam itu ada tiga bonus yang diberikan Dewa 19 buat Malaysia. Bonus pertama adalah Audy, yang menyanyikan Satu Hati dan Kangen. Lalu diikuti penampilan Ari Lasso yang ngebeset Elang. Bonus terakhir adalah Ratu, yang cuek saja bergoyang sexy ngebawain Aku Baik-Baik Saja dan Teman Tapi Mesra diiringi oleh Ahmad Dhani cs.

Sementara Dewa sendiri berjaya banget dengan deretan hit mereka kayak Laskar Cinta, Pupus, atau Separuh Nafas. Nyaris dua jam set mereka berlangsung. Tapi enggak ada tuh penonton yang surut. Kecapaian, pasti. Tapi mundur? No way!

Teng pukul 12 malam, Dewa pun memungkas konser bertajuk Konsert Pesta Malam Indonesia ini. Puas? Belum ah. Jadi pengin melihat kelanjutan dari serbuan 15 April ini. Ayo, ayo, siapa menyusul.

DANIE SATRIO Tim MUDA

Design By KCM
Copyright © 2002 Harian KOMPAS

Ungu Semarakkan Malam Minggu ITS

Filed under: Konser

Taman Alumni, ITS Online - Grup band Ungu nampaknya menebarkan aura yang cukup besar di ITS, hal ini nampak karena sejak sore beberapa orang dari pihak event organizer sibuk memasang tenda dan panggung yang cukup besar di areal Taman Alumni ITS. Jauh beranjak menuju senja, terlihat beberapa muda mudi yang sudah bersiap menghabiskan malam minggu mereka di kampus ITS sembari berjalan ringan menikmati udara sore.

Dari informasi yang didapatkan, organisasi peinta alam mahasiswa Siklus sebagai official partner dari unit mahasiswa berhasil menjual sekitar 400 lembar tiket. Tiket yang berhasil terjual habis ini menandakan antusiasme mahasiswa ITS untuk menyambut band yang sedang naik daun ini. “Wah, tapi tetep masih banyak yang cari lho mas, walaupun tiket boxnya sudah habis”, ungkap Galuh, salah satu anggota Siklus. Namun tiket masih disediakan pada penjualan tiket pada saat sebelum konser diadakan. Panitia sendiri menargetkan sekitar dua ribu penonton menghadiri konser Ungu ini.

Konser yang dijawalkan mulai sejak pukul 19.00 malam ini ternyata harus mundur hingga sekitar satu jam. Ini dilakukan karena masih banyak penonton yang masih memadati areal parkir dan areal luar tempat konser. Tidak ingin menunggu lama, panitia segera memulai acara ini mulai jam delapan malam. Seperti layaknya konser lainnya, sebelum bintang utama muncul panitia telah menyiapkan dua band lokal sebagai pemanas suasana.

Awalnya, band Alpha November didapuk sebagai band pertama yang bermain. Band lokal yang menggunakan ketipung sebagai pengganti drum ini menyuguhkan tiga lagu bernuansa britpop. Dibuka dengan lagu dari grup band Naif, tidak perlu waktu lama bagi Alpha November untuk memanaskan suasana. Band kedua nampaknya ingin suasana malam minggu ini lebih terbakar lagi. Dengan mengusung lagu-lagu bernuansa progresif dan emo seakan mengajak penonton yang sejak sore memadati venue untuk menggoyangkan badan. Ditutup dengan single dari Muse, band ini mendapatkan applaus yang cukup meriah dari penonton.

Tampaknya suasana sudah cukup hangat, pembawa acara yang ditunjuk segera mengajak penonton untuk meneriakkan “Ungu” untuk memanggil band yang baru menggelar konsernya di Padang ini. Penonton yang sudah tak sabar sontak meneriakkan nama Ungu berkali-kali dengan penuh semangat. Tidak lama grup band yang sudah lama ditunggu ini akhirnya naik keatas panggung disambut teriakan penonton.

Diawali dengan single dari album keduanya, Ungu membuat suasana menjadi bergairah. Tanpa dikomando, penonton yang tadinya berkelompok kecil-kecil dan tersebar di areal konser terpaksa merapat memadati pagar pengaman yang dijaga ketat oleh satu peleton khusus yang diturunkan kepolisian.

Lagu demi lagu mengalir menyemarakkan malam, penonton semakin bergairah dan bersemangat mengikuti setiap syair yang dibawakan. Terlihat pada semua lagu para penonton mampu menyayikannya bersama Ungu. Akhirnya pada pertengahan acara mulai dinyanyikan lagu-lagu dengan tempo yang lebih cepat seperti hits Karena Dia Kamu yang mampu menyihir penonton untuk menggoyangkan badan dan tangan. Tak lupa sebagai antiklimaks Ungu membawakan lagu-lagu yang bertempo lebih lambat seperti singlenya Demi Waktu yang mampu membawa penonton untuk sing along bersama.

Menariknya, tidak semua yang hadir adalah remaja. Tampak juga anak-anak dan orang tua yang hadir dalam konser Ungu ini. Pada barisan terdepan juga ternyata tidak sedikit anak-anak yang tampak, lebih-lebih mereka mampu membawakan beberapa hits Ungu dengan baik. Contoh saja Yuyun dan Dina yang merupakan pelajar pada sebuah SMP di Surabaya, mereka hadir untuk menyaksikan idola mereka. Tidak hanya berdua, Yuyun dan Dina mengaku datang bersama orang tua mereka. Beberapa orang tua yang hadir juga mengaku hadir untuk menemani anak-anak mereka yang gandrung kepada band yang didirikan pada tahun 1996 ini.

Faruk, salah satu anggota Siklus, megatakan bahwa konser Ungu adalah salah satu konser yang sukses diadakan di ITS. Hal ini, bagi Faruk, membalik anggapan bahwa acara band yang diadakan di ITS tidak pernah sukses. “Konser Ungu ini bisa rame karena bintangnya lagi booming”, ujar Faruk mengakhiri obrolan. (ap/rif)

April 22, 2006

Pasha “Ungu” Eks User Narkoba

Filed under: Pasha, Infotainment

SIAPA sangka, Pasha ternyata pernah mengonsumsi narkotik dan obat-obatan berbahaya. Vokalis grup band "Ungu" itu pernah nenggak putaw sampai ganja. Pasha mengaku, lingkungan yang membuatnya ingin coba-coba. "Waktu itu saya masih di Jakarta," kata Pasha.

Beruntung, Pasha tidak ketagihan. Setelah bergabung dengan "Ungu", dia sudah bersih dari semua barang terlarang itu. Apalagi, dia dan personel Ungu lainnya sudah berikrar tak terlibat narkoba. "Saya syukuri Ungu clear [dari narkoba]," kata pria yang tengah menunggu kelahiran anak pertamanya ini.

Pasha menyayangkan sekaligus miris kalau mendengar ada sesama arti yang tertangkap mengonsumsi narkoba. Contohnya, Revaldo. Dia hanya bisa berharap, suatu saat Revaldo bisa bersih dari narkoba.

April 21, 2006

Indon rock blows away rain

Filed under: Konser

AREF OMAR

A downpour did not dampen the mood during the first Pesta Malam Indonesia concert, which featured eight Indonesian rock acts. AREF OMAR writes.


THE concert started one hour late at 4pm on a cloudy yet hot afternoon, with many people still trying to get into Stadium Merdeka in Kuala Lumpur.

Organised by Hotlink and Fat Boys Records, the first Pesta Malam Indonesia eventually kicked off with Ada Band performing its brand of ballad rock tunes including the mellow Manja and the quirky Manusia Bodoh.

Next up was Ungu that had a rocky start with pitchy vocals and guitar volume troubles but pulled through nicely performing crowd-pleasers Berikan Aku Cinta, Melayang and Demi Waktu.

Cokelat from Bandung was fronted by feisty female singer Kikan who, together with her cohorts all clad in black, rocked the slowly trickling-in crowd with eight songs including Saat Jarak Memisahkan and Karma.

When pop-rock outfit Padi (who won the Favourite Indonesian Artiste category in the inaugural 2002 MTV Asia Awards) took to the stage, expectations were high.

Unfortunately, it started to rain heavily during the Surabaya boys’ fourth song at about 7pm and the concert came to an abrupt stop.

After an hour of waiting with fingers crossed, the sky cleared up and the concert resumed with Padi performing four more hit songs including the reggae-influenced Sobat.

Despite the slight drizzle and cold atmosphere, more people gathered onto the field again and huddled closely together to the front of the stage as Gigi performed Perdamian. Anti-war visuals were projected on a big screen behind the band.

The catchy songs Jomblo, Andai and Terbang, driven by Armand Maulana’s husky vocals and energetic stage presence, got the crowd going.

Gigi proved to be a group of capable musicians, especially new drummer Gusti Henry who performed a riotous drum solo while bassist Thomas Ramdhan kept an impeccable groove.

Janji, the ninth song, ended Gigi’s splendid set, accompanied by fireworks which lit up the sky.

It was clear that the most popular group of the night was Dewa 19. Fans went wild and screamed when the five musicians from Surabaya took to the stage.

No stranger to Malaysia, the band (which has been around since the mid-1980s) wasted no time and launched into a volley of songs from its latest album Republik Cinta including the brooding Laskar Cinta.

The band’s rock solid rework of the classic Queen tune I Want to Break Free got the crowd worked up and in the mood for more.

By this time it really felt like a rock concert. Roaming coloured spotlights and big screens on each side of the stage showed the band in its full glory.

During a pause between songs, vocalist Once expressed his sincere pleasure to be able to perform again in Kuala Lumpur, it being the band’s fourth trip.

The show continued with Dewa 19’s multi-talented songwriter-lyricist and guitarist Ahmad Dhani singing a duet with the beautiful songbird Audy, who also performed Satu Hati (Kita Semestinya), accompanied by two backup singers.

Other hit songs performed included Sayap-sayap Patah, Mistikus Cinta and Cukup Siti Nurbayah.

Things slowed down a bit as former Dewa 19 vocalist Ari Lasso, who has a successful solo career with three released albums, came onstage for a few songs.

The crowd applauded when he sang Kangen, a slow rock number that he dedicated to those who miss home.

Maia Ahmad and Mulan Kwok, the duo known as Ratu, then performed a heartfelt piano-based Di Dadaku Ada Kamu, followed by charged-up punk rock number Teman Tapi Mesra which had the two girls prancing around the stage.

The night of Indonesian rock revelling came to an end when Dewa 19, accompanied by Audy, Lasso and Ratu, shared the stage to perform some songs.

April 18, 2006

Launching album di Malaysia

Filed under: Album

“Mat Indon” berpesta di konsert Malam Indonesia

Filed under: Konser

Perasaan bercampur aduk di antara cemas dan teruja. Namun, apa yang memeranjatkan adalah perbalahan yang telah berlaku di kalangan penonton di Pesta Malam Indonesia. Bagaikan menconteng arang di muka sendiri. Itulah kemuncak konsert Malam Indonesia.

 

Bayangkan di pertengahan konsert yang diadakan pada malam minggu itu, ramai ‘Mat Indon’ ditahan oleh pihak keselamatan kerana bertindak di luar norma tatatertib. Malah, senario ini telah mengalih perhatian ramai penonton konsert yang datang untuk menyaksikan band-band gergasi dari negara jiran kita, Indonesia.

Perbalahan turut berlaku apabila beberapa kumpulan ‘Mat Indon’ berebut-rebut untuk memasuki kawasan hadapan pentas ketika Cokelat membuat persembahan mereka. 

Justeru, pihak berkuasa terpaksa menggunakan kayu untuk menghalang mereka daripada masuk. Walau digunakan kayu mahupun besi sekalipun, mereka masih merempuh pagar di Stadium Merdeka pada petang itu. Cemas dibuatnya.

Pertandingan bendera turut menggamatkan suasana di stadium apabila beberapa puak mengibarkannya di konsert itu.

Bendera yang menjadi simbol kepada idealogi mereka dikibar dengan tingginya melalui  struktur piramid yang dibina dikalangan mereka sendiri. Mereka bagaikan tidak menghirau dengan bahaya yang bakal diundang.

Konsert yang bermula 1 1/2 jam lambat daripada yang dirancang, membuka tirainya dengan persembahan Ada Band.

Walaupun pada mulanya, penonton masih belum membanjiri Stadium Merdeka, Ada Band mampu menarik minat orang ramai . Ini merupakan pertama kali band tersebut bermain di Malaysia. Lagu seperti ‘Masih’ dan ‘Manja’ merupakan lagu dendangan untuk peminat ‘baru’ mereka.

Kerancakan konsert bertambah dirasai apabila band baru, Ungu menyusul kemudiannya. Walaupun ramai yang teragak-agak untuk menyanyi bersama, ramai kelihatan terloncat-loncat ketika Ungu mendendangkan beberapa buah lagu yang rancak daripada album terbaru mereka,”Melayang”.

 

Ketika Cokelat membuat persembahan mereka, penyanyi utama Kikan sempat menegur para penonton untuk menjaga tata tertib mereka agar tidak keterlaluan. Ini adalah sesuatu yang memalukan sehingga memaksa artis terpanggil untuk menegur tingkah laku para penonton.

Lagu-lagu seperti ‘Karma’, ‘Segitiga’ serta ‘Bendera’ dimainkan untuk megubati rindu peminat-peminat mereka di Malaysia. Cukup bertenaga sekali persembahan Kikan, vokalis wanita yang terhebat di Indonesia.

 

Kini, giliran Padi pula masuk padang. Sesungguhnya, vokal Fadly tidak menghampakan para peminat mereka. Dendangan ‘Kasih Tak Sampai’ bersama penyanyi kecil, Rossa memukau para penonton. 

Kemerduan suara mereka tidak terasa bila hujan turun  membasahi Stadium Merdeka. Konsert itu  dihentikan untuk sementara waktu untuk menunggu hujan reda dan juga untuk menghormati waktu solat Maghrib.

Penyanyi utama Padi, turut memesan kepada para penonton untuk menunaikan solat mereka. Mungkin ada di kalangan penonton yang tersentak dibuatnya. Sejurus sahaja selepas hujan reda, Padi mengakhiri persembahan mereka.

 

Gigi pula telah mempamerkan satu persembahan ‘gila’ menerusi aksi ligat Arman, penyanyi utama mereka. Gigi paling banyak berinteraksi bersama para penonton dengan pelbagai loghat serta bahasa yang amat mencuit hati.

Arman turut menyampaikan rasa  penghargaan kepada peminat mereka di rantau Asia atas sokongan mereka kepada kumpulan rock itu selama 12 tahun.

 

Akhirnya, Dewa 19 menunaikan mandat untuk mengakhiri konsert tersebut. Beberapa artis dijemput seperti Ratu, Ari Lasso serta Audy untuk memeriahkan lagi tenaga kumpulan gergasi Indonesia itu.

Namun, Audy agak menghampakan kerana vokalnya agak lemah ketika berduet bersama Dewa 19 menerusi lagu ‘Satu Hati’. Mereka gagal menandingi kombinasi Padi-Rossa yang bagaikan memukau mereka yang menghadiri konsert Malam Indonesia itu.

Pengacara-pengacara pada malam tersebut pun tidak kurang hebatnya,. Penonton tertarik dengan telatah Sarah (bekas pengacara MTV) yang lincah serta melucukan.

 

“Kesemuanya bekas pacar aku,” katanya berlawak mengenai band-band yang ada.

 

Secara keseluruhan, memang berbaloi untuk menonton konsert ini. Cuma kekecohan yang timbul merupakan titik-titik hitam pada malam itu.

April 14, 2006

‘Double Platinum’

Filed under: Award

Bintang grup band tanah air, Ungu, makin ‘bersinar’ saja. Lagunya yang berjudul DEMI WAKTU berhasil menghantarkan Ungu meraih pengakuan sebagai ‘MTV Exclusive Artis’ dan menyabet penghargaan ‘Double Platinum’. Tak sampai hitungan bulan sejak dirilis, album ini sudah dilego 100 ribu keping. Bulan kedua menyabet ‘Platinum Award’. Dan pada bulan ketiga menyentuh 350 ribu keping, serta dianugerahi ‘Double Platinum Award’ dari Trinity Optima Production.

Ungu, Raih Double Platinum Pertama

Filed under: Award

JAKARTA - ”Nggak terbayang senangnya menerima double platinum,” papar Pasha usai menerima plakat double platinum di New Beat Cafe, Kemang, Jakarta, Rabu malam lalu.

Pasha mengaku, momen ini adalah momen yang paling berkesan sepanjang perjalanan karir mereka. ”Baru kali ini kami menerima double platinum,” ujarnya bangga.
Grup yang berdiri sejak 1996 ini sempat bongkar pasang personel sebelum akhirnya meluncurkan album kompilasi pada 2000. Sejak itu, lagu-lagu Ungu mulai diperdengarkan di ranah musik tanah air.

Bagi Ungu, album Melayang ini memang menyimpan arti yang cukup dalam. Single Demi Waktu yang mengantarkan sukses sempat diulur-ulur oleh Trinity Optima Production, selaku label yang menaungi. Lagu yang menjadi high request song untuk ring back tone di semua provider ponsel ini sebenarnya sudah digarap Enda sejak lama.

Tapi, pihak Trinity mengambil kebijakan untuk menunda merilis album tersebut. ”Alasannya waktu itu cari timing yang tepat, ujarnya. Meski sempat kecewa, tapi mereka percaya sepenuhnya kepada pihak produser untuk menunda perilisan album. Saat ini barulah Ungu merasa bahwa keputusan itu tepat. ”Kita nggak keberatan menunda kesuksesan, buktinya sekarang kita bisa di posisi ini,” sambungnya.

Selain meraih double platinum, pertengahan April ini Ungu bakal melakukan show ke Kuala Lumpur. Dalam konser ini, Ungu bakal satu panggung dengan Dewa 19, Cokelat, Ada Band, dan Ratu di Stadion Merdeka, Kuala Lumpur Malaysia. ”Permintaan manggung di luar negeri sudah semakin banyak,” ujar Enda.

Setelah Malaysia, Ungu juga sudah dilamar untuk segera pentas di negara Paman Sam. Jika bejalan sesuai rencana, mereka akan terbang ke Amerika pada Agustus nanti. (nik/jpnn)

April 13, 2006

Ungu “Melayang” ke Negeri Jiran

Filed under: News
 
 

PERJALANAN panjang akhirnya berbuah manis. Lewat Melayang, UNGU menyabet double platinum. Ini sekaligus menjadi tiket mereka untuk terbang ke negeri jiran. Secara umum ini menjadi pembuktian ampuhnya band-band tanah air menyedot telinga penikmat musik di Malaysia.

Dengan hits Demi Waktu mengantarkan UNGU jadi MTV Exclusive Artis di bulan Desember. Debut single di album ketiga ini mengibarkan UNGU ke puncak popularitas. Seperti dilansir kapanlagi.com, tak sampai hitungan bulan sejak dirilis, album ini sudah dilego 100 ribu keping. Bulan kedua menyabet Platinum Award. Pada bulan ketiga menyentuh 350 ribu keping dan dianugerahi Double Platinum Award dari Trinity Optima Production.
 

"Prestasi ini merupakan hal yang tak terduga. Jangan sampai terhenti pada 350 ribu saja," ujar Pasha, saat penganugerahan di News Beat Cafe, Kemang, Jakarta, Rabu (12/4).

Bahkan Demi Waktu menjadi high request song untuk ring back tone di semua provider telepon seluler. Sontak hal ini membuat Pasha (vocal), Enda (gitar), Onci (gitar), Makki (bass), Rowman (drum) jadi orang super sibuk.
"Jalan kami masih panjang, ini baru awal. Kami tidak mau terhenti di sini," tegas Makki satu-satunya pendiri UNGU yang tersisa. "Kita sangat bersyukur bisa mencapai tahap ini. Tapi jujur aja, demi sebuah waktu kita rela menunda sukses," sambung Pasha.

Pada awalnya single buatan Enda yang terbukti ampuh ini. Sempat ditunda rilis albumnya. Dengan alasan belum waktunya tidak tepat menurut pihak label. Dan keputusan tersebut sangat brilian. Gaung Demi Waktu merambah negeri Jiran. Empat perusahaan label berebut untuk mendapatkan hak edar di sana. SRC, perusahaan yang menaungi Siti Nurhaliza akhirnya keluar sebagai pemenang. Kamis (13/4) pagi, mereka "melayang" ke Kuala Lumpur. Rencananya mereka juga akan manggung bersama Dewa, Padi, Ratu, Peterpan dan lainnya di Kuala Lumpur.

"Kami tidak grogi untuk tampil di sana walau ini perdana bagi kami. Dan tak takut untuk disandingkan dengan band besar di sana. Kami melihat mereka lebih dahulu tampil dan memiliki karisma. Di musik tidak ada yang ditakuti," tandas Pasha menampik sinyalir yang mengatakan UNGU takut dengan band lainnya di sana. (rus)

April 11, 2006

Puluhan Cewek Pingsan di Konser Samsons

Filed under: News

Puluhan cewek pingsan kekurangan oksigen saat menyaksikan konser Samsons dan Ungu di Gelanggang Olahraga Tangerang, Banten, Senin (10/4). Seorang pria juga dibawa keluar gedung yang dipadati sekitar 2.000 penonton dengan kepala bocor terkena lemparan batu.

Samsons yang digawangi Audrey, (bas) Konde (drum), Erik (gitar) Bams (vokal) dan Irfan (gitar) langsung menggebrak dengan satu tembang andalan Tentang Cinta. Penonton pun bergoyang. Suasana makin hangat saat Samsons menambah lagu-lagu hit seperti Kenangan yang Terindah serta Naluri Lelaki. Satu per satu perempuan pingsan. GOR Tangerang seperti tak mampu menahan penonton yang terus memaksa mendekati panggung agar bisa mendekati idola mereka.

Selesai Samsons, giliran grup Ungu unjuk gigi. Situasi tak berubah, para penonton tetap histeris melihat Pasha (voka), Makki (bas), Enda` (gitar), Onci (gitar), dan Rowman (drum). Hingga akhir pertunjukan, sekitar 20 perempuan jatuh pingsan karena tak kuat menahan impitan atau sesak dan kepanasan.[l6]

April 10, 2006

Promosi ke Malaysia

Filed under: News

UNGU tak hanya mempromosikan album teranyarnya, Melayang, di Indonesia. Tidak lama lagi, kelompok tersebut akan terbang ke Malaysia untuk memopulerkan album tersebut di sana. Rencananya, Sigit Syamsuddin Said "Pasha" (vokal), Makki (bass), Rowman (drum), Oncy (gitar), dan Franco Medjaya Kusumah "Enda" (gitar) akan berangkat Kamis, 13 April mendatang.

Menurut manajer UNGU, Judith, Melayang yang sukses meraih platinum hanya dalam waktu satu bulan setelah rilis di Indonesia juga sudah diedarkan di Malaysia sejak Maret lalu di bawah label Surya. "Respons masyarakat di sana menyenangkan. Bahkan, lagu Demi Waktu selalu menempati chart di beberapa stasiun radio setempat," ungkapnya.

Selain promosi, Pasha dan kawan-kawan akan tampil satu panggung bersama Dewa 19, Cokelat, Ada Band, dan Ratu dalam sebuah acara di Stadion Merdeka pertengahan bulan ini. "Ini merupakan satu kebanggaan buat kami," ungkap Judith.

Setelah Malaysia, negara tujuan UNGU selanjutnya adalah Amerika Serikat. Mereka mendapatkan tawaran untuk tampil menghibur masyarakat Indonesia yang tinggal di San Francisco.

Tawaran itu datang setelah klip UNGU berjudul Tempat Terindah menjadi pemenang dalam pemilihan klip musik Indonesia terbaik yang diselenggarakan News Channel di San Francisco. "Kita mengalahkan klip lagu Dewa 19 dan Peterpan," papar Judith.

Jika tidak ada halangan, UNGU akan berangkat ke negeri Paman Sam pada Agustus mendatang. UNGU akan manggung dalam acara perayaan hari ulang tahun Republik Indonesia di sana.

April 6, 2006

UNGU Konser di Malaysia

Filed under: News

 
Grup band UNGU dijadwalkan akan menggelar konsernya di Malaysia. Menurut rencana, mereka berangkat ke negeri jiran itu pada hari Senin, pekan depan. Di sana UNGU akan manggung selama 10 hari di dua tempat, pertama di gedung kesenian Malaysia, pada 15 April, kemudian di Johor Malaysia, pada 20 April. Selain itu, mereka juga akan melakukan kunjungan ke tiga stasiun televisi Malaysia. Kedatangan mereka sekaligus mempromosikan album ketiganya, DEMI WAKTU.

April 2, 2006

ungu-samsons: dua kekuatan baru musik indonesia

Filed under: News

Bukti paling konkret keperkasaan Ungu dan Samsons bisa dilihat dari penjualan album mereka. Album Melayang milik Ungu — yang memuat hit Demi Waktu — sudah terjual lebih dari 300 ribu keping. Tinggal tunggu beberapa waktu lagi album debut Samsons, Naluri Lelaki, bakal diganjar double platinum.


demam Peterpan sudah mereda. Radja yang setahun belakangan mendominasi mulai terancam tahtanya. Kini, ganti Ungu dan Samsons yang menguasai panggung musik lokal.

 

Dalam beberapa bulan terakhir, dominasi Ungu dan Samsons paling kentara ketimbang band lainnya. Tengoklah di berbagai tangga lagu stasiun radio. Lagu-lagu yang bertengger di posisi puncak, kalau tidak milik Ungu, pastilah milik Samsons. Dua band ini juga jadi langganan berbagai stasiun televisi buat ditampilkan. Bukti paling konkret keperkasaan Ungu dan Samsons bisa dilihat dari penjualan album mereka. Album Melayang milik Ungu — yang memuat hit Demi Waktu — sudah terjual lebih dari 300 ribu keping. Tinggal tunggu beberapa waktu lagi album debut Samsons, Naluri Lelaki, bakal diganjar double platinum. Ini artinya, album debut Samsons mendekati angka penjualan 300 ribu keping. Khusus Samsons, kabarnya, album mereka termasuk yang paling banyak dicari. Banyak lho toko kaset yang kehabisan stok album ini. Eforia Ungu dan Samsons merambah sampai dunia telepon seluler. Lagu-lagu mereka bergantian menduduki peringkat paling atas lagu yang paling banyak diminta sebagai ringtone atau nada sambung pribadi.

 

Ungu dan Samsons mencapai popularitas dengan cara dan proses yang berbeda. Buat Ungu butuh waktu 10 tahun untuk berada dalam kondisi sekarang. Band berpersonelkan Makki (bas), Pasha (vokal), Enda (gitar), o­nci (gitar), dan Rowman (dram) ini berdiri pada 1996, namun merilis album debut, Laguku, pada 2002. Selang dua tahun kemudian, band asal Jakarta ini merilis album Tempat Terindah. Sayang, dua album itu tak mendapat respons hangat. Bahkan di kota-kota tertentu, penampilan band ini tak mendapat atensi. Barulah setelah merilis album Melayang, band yang beberapa personelnya sempat frustrasi karena tak kunjung populer ini, mulai diperhitungkan.

 

Berbeda dengan Ungu, Samsons meraih sukses dengan waktu yang relatif cepat. Samsons yang digawangi Bams (vokal), Irfan (gitar), Aldri (bas), Konde (dram), dan Erik cuma butuh 3 tahun buat merengkuh sukses. Band ini berdiri 14 Juli 2003, lantaran personelnya sering nongkrong bareng. Awalnya mereka pakai nama Evil Band. Personelnya tak seperti sekarang. “Ada personel ceweknya. Cuma lantaran mereka belajar ke luar negeri, mereka cabut,“ ujar Bams. Makin serius bermusik, Samsons lalu membuat demo dan mengirimkannya ke berbagai perusahaan rekaman. Demo mereka sempat dilirik sebuah perusahaan rekaman. Namun karena merasa tak cocok, tawaran rekaman itu mereka tampik. Singkatnya, Samsons kemudian dilirik Universal Music. Di perusahaan rekaman inilah Samsons berlabuh.


 

Tiga tahun setelah berdiri, band ini merilis Naluri Lelaki. Lewat lagu Naluri Lelaki, mereka mencuri perhatian publik. Puncaknya, ketika Samsons mengeluarkan singel kedua, Kenangan Terindah. Band ini menjelma jadi idola baru. “Sampai sekarang saya nggak tahu kenapa kami bisa disukai banyak orang. Saya juga merasa sukses ini datang terlalu cepat,” ujar Bams merendah.

 

Sukses album ini membuat Samsons kebanjiran tawaran manggung. Bisa dibilang Samsons band hattrick. Dalam sehari mereka bisa manggung sampai tiga kali. “Beberapa kali kami pernah melakukan itu,” tambah Bams. Bahkan setelah menaikkan tarif manggung sampai beberapa kali — dengan harapan frekuensi manggung mereka bisa terkendali — tawaran tetap datang bertubi-tubi. Masih soal manggung, band ini dapat tawaran manggung di 60 kota. Tur dengan jumlah itu tergolong prestasi luar biasa buat band baru seperti Samsons. “Yang jelas kami sangat bersyukur dengan keadaan sekarang. Itu berarti musikkami diterima masyarakat,” kata Bams lagi.

 

Bila ditilik, kunci sukses Ungu dan Samsons punya benang merah yang sama. Musik keduanya sama-sama easy listening, tidak njlimet, dan mudah dicerna kuping. Bukan rahasia lagi, kalau musik model seperti inilah yang kini sedang diminati pasar. Kalau mau digali lagi, baik Ungu maupun Samsons meroket bermodalkan tembang mellow. Samsons punya Kenangan Terindah dan Ungu punya Demi Waktu. Di luar faktor musik — walau tak signifikan — faktor fisik juga punya punya peran. Personel Ungu dan Samsons punya tampang yang lumayan menarik. Tengoklah, setiap konser teriakan histeris penggemar wanita pasti diarahkan ke mereka.

 

Pastinya, sukses dan popularitas yang kini mereka dapat bukanlah akhir dari segalanya. “Sukses ini malah jadi beban buat kami. Mau tidak mau ke depannya kami harus bisa lebih sukses dari sekarang ini. Inilah yang jadi tantangan kami ke depan,” ujar Makki, pencabik bas Ungu. Samsons pun begitu. Cita-cita mereka jadi salah satu kekuatan besar musik negeri ini masih butuh pembuktian.






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Hadley Wickham