Band ungu Menikmati Sukses Di Bulan Ramadhan
Album religi Surga-Mu benar-benar membawa berkah kelompok musik UNGU yang diawaki Pasha (vokal), Enda (gitar), Rowman (dram), Makki (bas), dan Oncy (gitar). Bagaimana tidak? Dalam sepuluh hari sejak diluncurkan ke pasar, sudah terjual sebanyak 150 ribu keping. Sementara album reguler mereka sudah menembus angka penjualan mencapai 900 ribu kopi. Selamat buat Ungu!
Prestasi UNGU ini tentu tidak mudah untuk menggapainya. Sebelum sukses, Pasha dan kawan-kawan menghadapi banyak tantangan dan rintangan. Berkat kerja keras dan kesabaran mereka melalui batu sandungan itu, perjuangan mereka akhirnya mencapai klimaks seperti sekarang ini.
Keberhasilan UNGU lainnya: menyabet double platinum untuk album ketiganya, Melayang. Dalam waktu sebulan, album ini terjual 150.000 kopi sekaligus singel-nya, Demi Waktu, tampil menjadi hit dan cukup populer di kalangan penggemar musik.
Dalam perjalanan meniti karier, personal UNGU sempat mengalami surutnya prestasi karena kaset mereka tidak laku di pasar. Ini membuat di antara mereka ada yang terpaksa mencari pelarian "bersahabat" dengan minum-minuman keras. Tapi dalam keputus-asaan itu, UNGU mencoba bangkit. Hasilnya, sungguh luar biasa. Kini UNGU termasuk kelompok musik yang pantas diperhitungkan di kancah musik nasional.
Pasha mewakili teman-temannya di Hard Rock Cafe, Jakarta, baru-baru ini, mengatakan, semula album Surga-Mu diplot berisi 10 lagu. Tapi karena keterbatasan waktu penggarapan, maka isi album itu diperas menjadi hanya 5 lagu, tanpa mengurangi kualitas yang ada. Karena itulah, album Surga-Mu disebut sebagai mini album yang merupakan album religi pertama UNGU yang diedarkan menjalang bulan Ramadhan 1427 H.
Lebih jauh Enda menjelaskan, peluncuran album Surga-Mu memang sengaja dilakukan di tengah sukses ketenaran UNGU. Tapi sikap aji mumpung ini dijalani karena UNGU mendapat kesempatan untuk membuat lagu-lagu religi. "Sebenarnya mungkin banyak band yang mempunyai lirik religi yang baik dan lebih bagus dari UNGU. Tapi mungkin tidak ada kesempatan. Nah, di sisi lain, UNGU mempunyai kesempatan untuk itu," ujar Enda merendah.
Dalam album mini ini, Enda dan Pasha masing-masing menyumbangkan dua lagu. Kemudian satu lagu lainnya berjudul "Shalawat" diberi keterangan dengan status no name.
Bagi band asal Bandung ini, membuat album religi merupakan pengalaman pertama mereka. Namun Pasha dan kawan-kawan nyatanya telah membuktikan diri mereka mampu menulis lirik religi. "Lirik religi pasti berasal dari hati dan pengalaman yang pernah kita alami. Dan, agama menjadi dasar kita," tandas Enda.
Santai, tidak ngoyo dan selalu bersyukur, sepertinya telah menjadi cermin anak-anak UNGU. Dari awal meluncurkan album reguler dan mini album religius ini, mereka tidak pernah mematok target. "Kita sebenarnya tidak begitu tahu seberapa banyak album kita terjual. Kami tidak pernah membuat target. Tugas kita membuat lagu dan menyanyi," kata Enda yang menegaskan bahwa pembuatan album mini religi Ungu merupakan bagian dari ibadah dan pengabdian mereka terhadap Tuhan.
Ditanya apakah mengalami kesulitan membuat lagu rohani, Enda mengatakan, "Pasti ada beban menulis lagu rohani, misalnya bagaimana mengubah kebiasaan saya menulis lirik cinta universal antarmanusia menjadi syair cinta pada kebesaran Tuhan," ujarnya mengungkapkan.
