Tempat Terindah Ungu

September 28, 2006

SURGAMU, Ketika UNGU Bermetamorfosa di Ranah Religius

Filed under: Resensi, SurgaMu

IKUT-IKUTAN? Sah-sah saja sebenarnya, ketika band sekelas UNGU akhirnya "terseret’ dalam pusaran religi lewat lagu. Sebagai bagian dari sebuah industri musik, keterkenalan UNGU adalah tambang emas. Apalagi sekarang, band yang berawak Makki [bas], Pasha [vokal], Onci [gitar], Enda [gitar], dan Rowman [drum], sedang menjejakkan diri di tatar papan atas musik Indonesia.

Masuk bulan ramadhan, band yang sedang melabung dengan hits ‘Demi Waktu’ ini juga merilis mini-album yang diberi titel ‘SurgaMU’. Mengapa mini-album karena album religi ala UNGU ini hanya berisi 5 lagu yang nyaris semuanya lagu baru.

Single pertamanya ‘Surga-MU’ sangat khas UNGU dengan tempo mellow. Menurut UNGU, mereka memang tidak membuat lagu Islami yang selama ini identik dengan paduan musik Timur Tengah dan modern. Menurut Pasha, UNGU ingin tetap menjadi UNGU dengan lagu-lagu religi yang pop dan tetap bisa diterima semua fans, tak peduli apapun agamanya.

Dilihat dari gejalanya, trend rilis album rohani di kalangan musisi yang sedang naik daun, sebenarnya lebih kepada kepentingan pasar. Ketika ramadhan usai, biasanya usai juga euforia album religi itu. Tapi paling tidak, kini ada banyak lagu religi yang lebih berwarna, termasuk UNGU. Begitu? [joko/foto: istimewa]

September 26, 2006

Album SurgaMu - Ungu: Interpretasi Musik Religi Ala Ungu

Filed under: Resensi, SurgaMu

Bulan Ramadhan membawa inspirasi tersendiri bagi musisi kita. Mulai dari pemusik sekuler sampai pemusik rohani merilis album religi bernafaskan nuansa ramadhan. Entah latah atau tidak, grup band Ungu pun ikutan merilis album ‘SurgaMu’.

Album SurgaMu sebagai bentuk interpretasi musik religi Ungu yang universal. ‘SurgaMu’ adalah single pertama ciptaan Enda, gitaris Ungu. Melalui lagu ini Enda mengajak manusia untuk tetap mengingat Tuhan pada masa senang atau pun susah. Begitu juga dengan single ‘Doa’, Enda menawarkan pop Ungu dengan distorsi gitarnya dan Oncy.

Dua lagu berikutnya, giliran Pasha, sang vokalis, yang ambil kendali. Dia menulis single ‘Selamat Lebaran’. Konon, Pasha terinspirasi dari suasana lebaran di kota asalnya Posp. Berikutnya, ‘Andai Ku Tahu’. Ini dia lagu yang didaulat sebagai ‘universal song’.

Pasha menggunakan sebutan ‘Tuhan’ untuk menyentuh lebih banyak umat manusia, dan tidak terkesan eksklusif. Lagunya sendiri berkisah tentang manusia yang berpasrah pada Tuhan, jikalau ajal menjemput. Sebelum ajal itu tiba, manusia hendaklah memperbaiki diri.

Total ada lima lagu dalam mini album ramadhan ini. Lima lagu berikutnya adalah ‘karaoke versionnya’. Siapa tertaik nyanyi bareng Ungu? Lumayan lho buat ngabuburit.

Album SurgaMu - Ungu:
1. SurgaMu
2. Andai Ku Tahu
3. Selamat Lebaran
4. Doa
5. Shalawat
6. SurgaMu (karaoke version)
7. Andai Ku Tahu (karaoke version)
8. Selamat Lebaran (karaoke version)
9. Doa (karaoke version)
10. Shalawat (karaoke version)

April 30, 2006

Sedap Melayang bersama UNGU

Filed under: Resensi, Melayang

WALAUPUN mula mendapat bantahan daripada sege lintir artis tempatan, album seberang terus dipasarkan di negara ini. Terbaru, Ungu pula mempertaruhkan album Melayang dengan mempertaruhkan lagu pada Trek 3, Demi Waktu sebagai tunjang utama.

Rasanya tidak perlu saya jelaskan panjang lebar kerana lagu ini cukup meluas siarannya di stesen radio tempatan pada waktu terdekat ini.

Keha diran mereka ke KL, baru-baru ini membuat persembahan juga saya lihat mendapat sambutan di luar jangkaan.

Dari Dewa, Padi, Coklat, Peterpan, Radja, Garasi semuanya mempertahankan cara dan gaya muzik masing-masing. Begitu juga dengan Ungu yang cukup selesa dengan muzik rock selamba.

Saya tak nafikan lagu seperti Melayang, Seperti Yang Dulu, Berikan Aku Cinta dan Sejauh Mungkin, terhibur rasanya hati ini. Cuma semakin lama saya hayati alunan muzik Ungu, semakin saya sedari bahawa yang muzik mereka kedengaran macam sama saja dengan yang kumpulan Indon lain.

Malah suara Pasha, vokal utama Ungu persis vokalis kumpulan Peterpan Ariel pada bahagian tertentu.

Hakikatnya, saya tidak menidakkan hakikat bahawa trek seperti Demi Waktu, Berjanjilah, Tercipta Untukku dan Aku Bukan Pilihan Hatimu, seronok diputarkan

December 12, 2005

Ungu, Melayang Dari Tempat Terindah

Filed under: Resensi, Melayang

 

Enda (gitar), Makki (bassist), Rowman (drums), Oncy (gitar), dan Pasha (vokal), yang tergabung dalam band Ungu, telah merilis album ketiga bertajuk ’Melayang’.

Sebelumnya band asal Jakarta ini telah menamatkan album ’Laguku’ (2003), ’Tempat Terindah’ (2004). ”Album ketiga yang kami kasih judul Melayang ini merupakan album yang kami pikirin bener bikinnya. Album Ungu yang lebih dewasa, lebih catchy dan ngepop, tanpa mengurangi karakter Ungu,” ujar vokalis Pasha dalam rilis yang dikeluarkan oleh Trinity.

Sejalan dengan usia Ungu, albumnya kali ini pun terdengar lebih dewasa. Simak aja pada lagu ’Seperti Yang Dulu’, ’Tercipta Untukku’ dan ’Sejauh Mungkin’. Bahkan pada lagu ”Tercipta Untukku’, ’Seperti Yang Dulu’ dan ’Demi Waktu’, Ungu memakai unsur string section. Namun, benang merah karakter musik Ungu yang rock lovers, terdengar pula pada komposisi lagu ’Melayang’, ’Berjanjilah’, ’Dari Satu Hati’ dan ’Ungu. Uniknya di Lagu Ungu, kelima anak muda ini bercerita tentang perjalanan band Ungu yang tetap bisa menyatu, satu visi, satu tujuan.

Album Melayang berisi selusin (12) lagu, 90% bertema cinta universal. Makki menyebut, perubahan pada musik yang lebih mellow, romantis, tapi masih tetap ada benang merahnya dengan dua album terdahulu lebih diilhami pada keinginan agar Ungu dapat meraih pangsa pasar yang lebih luas. Penampilan anak-anak Ungu pun akan lebih macho dan gahar. Mungkin ini ada kaitannya dengan produser musik Ungu yang yaitu Krisna Sadrach, salah satu dedengkot band Rock Suckerhead.

Banyak diantara lagu-lagu Ungu yang didaulat jadi soundtrack film maupun sinetron. Singel pertama ’Demi Waktu’ dan ’Melayang’ bahkan udah diminta untuk produksi sinema Indonesia. Sekedar flashback, lagu-lagu itu antara lain untuk film ’Buruan Cium Gue’ dan ’Virgin’, juga untuk 2 sinetron yang diambil dari lagu ’Bayang Semu’ dan ’Jangan Siakan’ dari album ’Laguku’ (2002).

So, apakah Ungu hanya akan sekedar Melayang atau malah Terbang Tinggi dan menggapai tempat yang lebih indah dengan materi album barunya ? Kita lihat saja.

UNGU; Sudah Lewat Masa-Masa Kritis?

Filed under: Resensi, Melayang

APA yang dicari dari band yang masih sering diremehkan, meski sudah menetaskan dua album? Pembuktian diri. Dan itulah yang kini coba dilakukan oleh UNGU. Berhasil? Tergantung dari mana Anda melihatnya. Dari sisi musikalitas, mereka “jauh” lebih baik dibanding album-album sebelumnya.

Album baru UNGU yang bertajuk MELAYANG ini memang rada beda dibanding album mereka sebelumnya. Baik dari sisi lirik, maupun aransemen musiknya. Dari sisi lirik, memang masih bicara soal cinta tapi perhatikan, mereka kini berani memainkan karakter musiknya lebih berat dan kasar ala rock-rock bawah tanah. Apakah ini yang mereka sebut-sebut sudah melewati masa “disolasi” (kegelapan -red). Mungkin saja. Tapi ini berbeda dengan aransemen musiknya.

Single pertama yang dibuat klipnya adalah Demi Waktu. Klipnya kelihatan sederhana, tapi terlihat kalau UNGU memang sedang berbung-bunga cinta. Lagu ini sebenarnya “sedikit berubah” tapi tak beranjak jauh dari sukses lagu mellow di album sebelumnya. Di lagu ini, kita masih belum menemukan sesuatu yang berbeda.

Tapi perhatikan lagu Melayang. Lagu dengan tempo up-beat ini maunya jadi lagu rock. Distorsi gitar dengan permainan dram dari Rowman, membuat lagu ini kuat secara performance. Sayang, karakter suara pasha memang tidak ‘ngerock’ jadi tetap saja yang dominan warna pop-nya.

Yang patut jadi perhatian, pembagian suara gitar kali ini ini lebih berimbang. Permainan Onci yang lebih ngerock tapi halus dan Enda yang ngerock tapi kasar, kali ini bisa memecah dengan labih baik. Di album-album sebelumnya, Enda lebih dominan. Perhatikan di lagu berjudul UNGU. Suara Pasha bisa membuat lagu ini seperti menelaah perjalanan band yang sempat diisukan goyang ini.

Satu catatan soal lagu UNGU. Pilihan soundnya lebih berkarakter rock yang mulai kencang. Apakah mungkin karena Krisna Sadrach, pentolan SuckerHead yang menjadi produser?

Single yang disinyalir untuk meraup sukses “kuping Indonesia” adalah lagu Dari Satu Hati. Dibuat dalam versi string version, lagu ini ke depannya pantas menjadi single unggulan. Tipikal lagunya yang lembut dan gampang dicerna jadi kekuatan lagu yang sebenarnya biasa-biasa saja ini.

Ada 12 lagu yang esay listening. Pilihan memang banyak, tapi yang paling penting, UNGU mulai membuktikan dirinya sebagai musisi tahan uji. Kalau mereka sukses kali ini, bolehlah dapat acungan jempol, meski masih satu jempol. [joko/foto: istimewa]]

December 12, 2003

Tempat Terindah: UNGU (Masih) Tambal Sulam

Filed under: Resensi, Tempat Terindah
BERGESER sedikit saja –dari sisi vokal, musikalitas dan skill personil– pasti akan terasa berbeda. Dan itu yang terjadi pada UNGU, band yang baru saja merilis album ke-2 TEMPAT TERINDAH. Ada ’sedikit’ pergeseran mendengar album ini. Mengapa sedikit? Karena memang sejatinya, UNGU masih tak beranjak dari tipikal album pertama, pop-rock (meski miring ke pop -red).

Album kedua ini ‘maunya’ memang agak mengedepankan unsur roc-nya, meski liriknya tetap simpel dan gampang dicerna. Tidak ada yang salah, selama itu diterima. Tapi inilah repotnya, UNGU menjadi tak tereksplorasi dari sisi lirik.

Oke. Mari kita perhatikan perubahan yang dimaui personilnya. Pasya –vokalisnya– di album ini mengalami peningkatan teknik vokal. Suaranya lebih tebal dan lafalnya makin jelas. Sayangnya, itu tak diimbangi dengan napas yang memadai. Di studio mungkin bisa diakali, tapi kalau tampil live bisa jadi blunder (ini terjadi ketika launch album, napasnya ‘ngos-ngosan’). Apalagi, di album ini beberapa lagu bertempo up-beat. Lagu lambatnya pun (ternyata) harus diambil dengan nada-nada tinggi. Single Karena Dia Kamu bisa jadi acuan. Di tembang Rasa Sayang, kalau tidak hati-hati, bisa out of pitch gara-gara keteteran napasnya. Tapi TEMBANG.com menjagokan ini sebagai single kedua (selain Dia dan Dirimu).

Entah mengapa Tempat Terindah jadi titel album, pasalnya lagunya sendiri punya prolog musik yang ‘agak-agak Malaysia’. Benar vokal Pasha makin matang, tapi kemudian cengkok khasnya seperti di lagu Bayang Semu hilang. Sengaja? Entahlah.

Beruntunglah Enda punya tandem Onci. Enda yang "ragu-ragu" di album pertama, kini tampil lebih lepas. Apakah karena Onci ‘ngomporin’ untuk main lebih bebas? Tidak tahu, tapi di album ini –serta melihat aksi livenya– Enda harus tidak lagi jadi kepompong. Sudah jadi kupu-kupulah. Onci sendiri punya andil memberi pengaruh di album ini. Meski dia harus kompromi soal lirik dan warna musik, tapi kocokan gitarnya (meski tak segarang ketika di Funky Kopral), adalah salah satu yang membuat album ini sedikit berbeda. Teknik bending string-nya asik. Meski secara skill, Onci perlu jam terbang yang lebih tinggi. Beberapa lagu adalah ciptaan Onci seperti Karena Dia Kamu, Mengertilah, Cinta:Cintaku.

Rowman makin bertenaga gebukannya. Simak saja di dua tembang awal Antara Kita dan Karena Dia Kamu. Aksi panggungnya juga makin gahar. Sayangnya, kadang-kadang di panggung Rowman out of control (apakah saking semangat nggebuk?).

Makki Parikesit notabene adalah personil paling senior di band ini. Tapi kok malah cabikan basnya kehilangan soul? Ada persoalan apa mas? Mana tapping-mu yang ciamik itu? Hait-hati kalau di panggung masih seperti itu.

Secara umum, UNGU memang banyak berbenah di album kedua ini. Mereka juga sudah mulai "berdandan" (ada yang menuding mereka masuk ke glam-rock?). Sah-sah saja. Mau jungkir balik di panggung juga boleh, tapi yang penting mereka harus buktikan tak selalu jadi ‘kelas 2′ lagi. Lirik yang simpel dan tema yang umum, tak lalu jadi "kacangan". Untuk kuping awam sekalipun, lagu-lagu di album ini tak sulit. [joko/foto: sampul kaset - HEMASWARA]

June 7, 2002

Ungu, Tak Mengumbar ‘Kemanisan’

Filed under: Resensi

BAND BARU? Secara pemunculan album memang iya. Tapi kalau lihat sejarahnya sih tidak. Band yang digelar dengan nama Ungu (kenapa bukan merah, kuning, atau hijau ya?), ini lahir tahun 1996.

Meski sempat lolos dalam kompilasi KLIK! dibawah Warner Music, mereka toh harus berlapang dada tak masuk band yang ‘direstui’ untuk dibuatkan album. Kalau akhirnya mereka merilis album yang diberi titel LAGUKU dibawah recording lain, paling tidak membuktikan mereka mampu membuat sebuah kemasan musik yang ‘layak jual’.

Karbitan? Buat Ungu stempel itu jelas nggak pantas. Personilnya cukup punya jam terbang yang tinggi. Makky (bass) pernah malang melintang main band di Amerika, juga sempat membantu beberapa musisi di tanah air. Rowman sempat gabung sebagai drumer Garux Band. Enda (gitar), juga sempat menjadi additional di beberapa band. Pasha, mungkin tergolong yang jam terbangnya ‘lumayan’ maklumlah, vokalis berkulit putih ini sebelumnya sudah sibuk jadi bintang iklan.

Bicara soal album Laguku memang langsung menunjukan karakter band ini. Dari segi teknik dan aransemen, musik mereka terbilang digarap cukup rapi. Hampir semua lagu memiliki grafik yang baik, yang bergerak perlahan dari bawah ke puncak dan turun dengan dramatis. Pemakaian instrumen musik yang tidak terlalu banyak masih mampu menghasilkan aransemen yang kaya variasi dan berkesan penuh. Kalau tambahan string section, sepertinya memang jadi gejala umum. Untung saja, Sawung Jabo bisa mengolahnya dengan manis (coba simak tembang pamungkas, Laguku).

Lagu andalannya Bayang Semu yang disajikan dengan beat ¾ diusung sebagai pembuka gebrakan mereka. Lagu ini terbilang easy listening (apalagi kemudian jadi theme song sebuah sinetron remaja -red). Pertimbangannya tentu saja pasar. Padahal, lagu-lagu dengan beat ini cenderung terdengar mirip satu sama lain. Namun untungnya, Ungu cukup cerdik mengakalinya. Ketukan dramnya dikombinasikan dengan ritmik yang sederhana pada verse serta beat yang lebih ramai pada chorus-nya. Hasilnya, ya sedikit bedalah dibanding yang lain.

Lagu lain yang langsung mengilik telinga kita adalah Terang. Ketukan dramnya dikombinasikan dengan ritmik yang sederhana pada verse serta beat yang lebih ramai pada chorus-nya. Hasilnya, ya sedikit bedalah dibanding yang lain.

Vokalisnya potensial untuk jadi vokalis besar, apalagi kalau dia bisa mengembangkan gaya dan pakemnya supaya lebih definitif. Soalnya, gaya bernyanyinya yang sekarang masih belum memperlihatkan eksistensinya sebagai vokalis yang mandiri. Apalagi, di beberapa bagian, cara bernyanyi Pasha terkadang kurang mencapai pitch.

Tidak hanya itu, aransemen vokal latarnya pun terdengar digarap kurang serius. Padahal jika mereka mau sedikit bekerja lebih keras dalam urusan aransemen vokal latar, mungkin kesan kesederhanaan itu bisa dikurangi dan malah kesan mahal dan megahlah yang bisa dimunculkan.

Kelihatannya, secara keseluruhan, Ungu berusaha untuk menampilkan musik yang sederhana, mudah dicerna, dan tidak (terlalu) distortif. Namun secara aransemen, album perdana Ungu ini terkesan rapat dan penuh.

lagu yang jadi titel album Laguku menjadi lagu pamungkas. Tembang ini dimainkan dengan tempo low medium. Tambahan string memang membuat lagu ini terkesan lebih "dramatis dan melankolik". Tapi pilihan lagu ini menjad single kedua (apalagi lagu kalem cenderung lebih mudah diterima pasar -red) sebenarnya tak terlalu tepat. Penulis lebih menjagokan Terang. Entah kalau pertimbangannya untuk menaikkan ‘oplah’ kaset. Tapi materi lagunya sih tak mengumbar ‘kemanisan’ melulu.






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Hadley Wickham