BAND BARU? Secara pemunculan album memang iya. Tapi kalau lihat sejarahnya sih tidak. Band yang digelar dengan nama Ungu (kenapa bukan merah, kuning, atau hijau ya?), ini lahir tahun 1996.
Meski sempat lolos dalam kompilasi KLIK! dibawah Warner Music, mereka toh harus berlapang dada tak masuk band yang ‘direstui’ untuk dibuatkan album. Kalau akhirnya mereka merilis album yang diberi titel LAGUKU dibawah recording lain, paling tidak membuktikan mereka mampu membuat sebuah kemasan musik yang ‘layak jual’.
Karbitan? Buat Ungu stempel itu jelas nggak pantas. Personilnya cukup punya jam terbang yang tinggi. Makky (bass) pernah malang melintang main band di Amerika, juga sempat membantu beberapa musisi di tanah air. Rowman sempat gabung sebagai drumer Garux Band. Enda (gitar), juga sempat menjadi additional di beberapa band. Pasha, mungkin tergolong yang jam terbangnya ‘lumayan’ maklumlah, vokalis berkulit putih ini sebelumnya sudah sibuk jadi bintang iklan.
Bicara soal album Laguku memang langsung menunjukan karakter band ini. Dari segi teknik dan aransemen, musik mereka terbilang digarap cukup rapi. Hampir semua lagu memiliki grafik yang baik, yang bergerak perlahan dari bawah ke puncak dan turun dengan dramatis. Pemakaian instrumen musik yang tidak terlalu banyak masih mampu menghasilkan aransemen yang kaya variasi dan berkesan penuh. Kalau tambahan string section, sepertinya memang jadi gejala umum. Untung saja, Sawung Jabo bisa mengolahnya dengan manis (coba simak tembang pamungkas, Laguku).
Lagu andalannya Bayang Semu yang disajikan dengan beat ¾ diusung sebagai pembuka gebrakan mereka. Lagu ini terbilang easy listening (apalagi kemudian jadi theme song sebuah sinetron remaja -red). Pertimbangannya tentu saja pasar. Padahal, lagu-lagu dengan beat ini cenderung terdengar mirip satu sama lain. Namun untungnya, Ungu cukup cerdik mengakalinya. Ketukan dramnya dikombinasikan dengan ritmik yang sederhana pada verse serta beat yang lebih ramai pada chorus-nya. Hasilnya, ya sedikit bedalah dibanding yang lain.
Lagu lain yang langsung mengilik telinga kita adalah Terang. Ketukan dramnya dikombinasikan dengan ritmik yang sederhana pada verse serta beat yang lebih ramai pada chorus-nya. Hasilnya, ya sedikit bedalah dibanding yang lain.
Vokalisnya potensial untuk jadi vokalis besar, apalagi kalau dia bisa mengembangkan gaya dan pakemnya supaya lebih definitif. Soalnya, gaya bernyanyinya yang sekarang masih belum memperlihatkan eksistensinya sebagai vokalis yang mandiri. Apalagi, di beberapa bagian, cara bernyanyi Pasha terkadang kurang mencapai pitch.
Tidak hanya itu, aransemen vokal latarnya pun terdengar digarap kurang serius. Padahal jika mereka mau sedikit bekerja lebih keras dalam urusan aransemen vokal latar, mungkin kesan kesederhanaan itu bisa dikurangi dan malah kesan mahal dan megahlah yang bisa dimunculkan.
Kelihatannya, secara keseluruhan, Ungu berusaha untuk menampilkan musik yang sederhana, mudah dicerna, dan tidak (terlalu) distortif. Namun secara aransemen, album perdana Ungu ini terkesan rapat dan penuh.
lagu yang jadi titel album Laguku menjadi lagu pamungkas. Tembang ini dimainkan dengan tempo low medium. Tambahan string memang membuat lagu ini terkesan lebih "dramatis dan melankolik". Tapi pilihan lagu ini menjad single kedua (apalagi lagu kalem cenderung lebih mudah diterima pasar -red) sebenarnya tak terlalu tepat. Penulis lebih menjagokan Terang. Entah kalau pertimbangannya untuk menaikkan ‘oplah’ kaset. Tapi materi lagunya sih tak mengumbar ‘kemanisan’ melulu.