Tempat Terindah Ungu

April 30, 2006

Sedap Melayang bersama UNGU

Filed under: Resensi, Melayang

WALAUPUN mula mendapat bantahan daripada sege lintir artis tempatan, album seberang terus dipasarkan di negara ini. Terbaru, Ungu pula mempertaruhkan album Melayang dengan mempertaruhkan lagu pada Trek 3, Demi Waktu sebagai tunjang utama.

Rasanya tidak perlu saya jelaskan panjang lebar kerana lagu ini cukup meluas siarannya di stesen radio tempatan pada waktu terdekat ini.

Keha diran mereka ke KL, baru-baru ini membuat persembahan juga saya lihat mendapat sambutan di luar jangkaan.

Dari Dewa, Padi, Coklat, Peterpan, Radja, Garasi semuanya mempertahankan cara dan gaya muzik masing-masing. Begitu juga dengan Ungu yang cukup selesa dengan muzik rock selamba.

Saya tak nafikan lagu seperti Melayang, Seperti Yang Dulu, Berikan Aku Cinta dan Sejauh Mungkin, terhibur rasanya hati ini. Cuma semakin lama saya hayati alunan muzik Ungu, semakin saya sedari bahawa yang muzik mereka kedengaran macam sama saja dengan yang kumpulan Indon lain.

Malah suara Pasha, vokal utama Ungu persis vokalis kumpulan Peterpan Ariel pada bahagian tertentu.

Hakikatnya, saya tidak menidakkan hakikat bahawa trek seperti Demi Waktu, Berjanjilah, Tercipta Untukku dan Aku Bukan Pilihan Hatimu, seronok diputarkan

December 12, 2005

Ungu, Melayang Dari Tempat Terindah

Filed under: Resensi, Melayang

 

Enda (gitar), Makki (bassist), Rowman (drums), Oncy (gitar), dan Pasha (vokal), yang tergabung dalam band Ungu, telah merilis album ketiga bertajuk ’Melayang’.

Sebelumnya band asal Jakarta ini telah menamatkan album ’Laguku’ (2003), ’Tempat Terindah’ (2004). ”Album ketiga yang kami kasih judul Melayang ini merupakan album yang kami pikirin bener bikinnya. Album Ungu yang lebih dewasa, lebih catchy dan ngepop, tanpa mengurangi karakter Ungu,” ujar vokalis Pasha dalam rilis yang dikeluarkan oleh Trinity.

Sejalan dengan usia Ungu, albumnya kali ini pun terdengar lebih dewasa. Simak aja pada lagu ’Seperti Yang Dulu’, ’Tercipta Untukku’ dan ’Sejauh Mungkin’. Bahkan pada lagu ”Tercipta Untukku’, ’Seperti Yang Dulu’ dan ’Demi Waktu’, Ungu memakai unsur string section. Namun, benang merah karakter musik Ungu yang rock lovers, terdengar pula pada komposisi lagu ’Melayang’, ’Berjanjilah’, ’Dari Satu Hati’ dan ’Ungu. Uniknya di Lagu Ungu, kelima anak muda ini bercerita tentang perjalanan band Ungu yang tetap bisa menyatu, satu visi, satu tujuan.

Album Melayang berisi selusin (12) lagu, 90% bertema cinta universal. Makki menyebut, perubahan pada musik yang lebih mellow, romantis, tapi masih tetap ada benang merahnya dengan dua album terdahulu lebih diilhami pada keinginan agar Ungu dapat meraih pangsa pasar yang lebih luas. Penampilan anak-anak Ungu pun akan lebih macho dan gahar. Mungkin ini ada kaitannya dengan produser musik Ungu yang yaitu Krisna Sadrach, salah satu dedengkot band Rock Suckerhead.

Banyak diantara lagu-lagu Ungu yang didaulat jadi soundtrack film maupun sinetron. Singel pertama ’Demi Waktu’ dan ’Melayang’ bahkan udah diminta untuk produksi sinema Indonesia. Sekedar flashback, lagu-lagu itu antara lain untuk film ’Buruan Cium Gue’ dan ’Virgin’, juga untuk 2 sinetron yang diambil dari lagu ’Bayang Semu’ dan ’Jangan Siakan’ dari album ’Laguku’ (2002).

So, apakah Ungu hanya akan sekedar Melayang atau malah Terbang Tinggi dan menggapai tempat yang lebih indah dengan materi album barunya ? Kita lihat saja.

UNGU; Sudah Lewat Masa-Masa Kritis?

Filed under: Resensi, Melayang

APA yang dicari dari band yang masih sering diremehkan, meski sudah menetaskan dua album? Pembuktian diri. Dan itulah yang kini coba dilakukan oleh UNGU. Berhasil? Tergantung dari mana Anda melihatnya. Dari sisi musikalitas, mereka “jauh” lebih baik dibanding album-album sebelumnya.

Album baru UNGU yang bertajuk MELAYANG ini memang rada beda dibanding album mereka sebelumnya. Baik dari sisi lirik, maupun aransemen musiknya. Dari sisi lirik, memang masih bicara soal cinta tapi perhatikan, mereka kini berani memainkan karakter musiknya lebih berat dan kasar ala rock-rock bawah tanah. Apakah ini yang mereka sebut-sebut sudah melewati masa “disolasi” (kegelapan -red). Mungkin saja. Tapi ini berbeda dengan aransemen musiknya.

Single pertama yang dibuat klipnya adalah Demi Waktu. Klipnya kelihatan sederhana, tapi terlihat kalau UNGU memang sedang berbung-bunga cinta. Lagu ini sebenarnya “sedikit berubah” tapi tak beranjak jauh dari sukses lagu mellow di album sebelumnya. Di lagu ini, kita masih belum menemukan sesuatu yang berbeda.

Tapi perhatikan lagu Melayang. Lagu dengan tempo up-beat ini maunya jadi lagu rock. Distorsi gitar dengan permainan dram dari Rowman, membuat lagu ini kuat secara performance. Sayang, karakter suara pasha memang tidak ‘ngerock’ jadi tetap saja yang dominan warna pop-nya.

Yang patut jadi perhatian, pembagian suara gitar kali ini ini lebih berimbang. Permainan Onci yang lebih ngerock tapi halus dan Enda yang ngerock tapi kasar, kali ini bisa memecah dengan labih baik. Di album-album sebelumnya, Enda lebih dominan. Perhatikan di lagu berjudul UNGU. Suara Pasha bisa membuat lagu ini seperti menelaah perjalanan band yang sempat diisukan goyang ini.

Satu catatan soal lagu UNGU. Pilihan soundnya lebih berkarakter rock yang mulai kencang. Apakah mungkin karena Krisna Sadrach, pentolan SuckerHead yang menjadi produser?

Single yang disinyalir untuk meraup sukses “kuping Indonesia” adalah lagu Dari Satu Hati. Dibuat dalam versi string version, lagu ini ke depannya pantas menjadi single unggulan. Tipikal lagunya yang lembut dan gampang dicerna jadi kekuatan lagu yang sebenarnya biasa-biasa saja ini.

Ada 12 lagu yang esay listening. Pilihan memang banyak, tapi yang paling penting, UNGU mulai membuktikan dirinya sebagai musisi tahan uji. Kalau mereka sukses kali ini, bolehlah dapat acungan jempol, meski masih satu jempol. [joko/foto: istimewa]]






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Hadley Wickham